Memahami "Ayah"





Pada suatu sore, saya berkunjung ke sebuah rumah. Ya, itu memang menjadi kunjungan yang paling dinanti selama sebulan terakhir kemarin. Hari itu, banyak pertanyaan yang tiba tiba saja bermunculan, khususnya tentang bagaimana mereka, apakah saya akan baik-baik saja, dan sebagainya. Orang pertama yang saya lihat setibanya di sana adalah seseorang yang dipanggil Ayah. Saya langsung bisa memahami, darimana "dia' memperoleh senyum ramahnya. Sore itu, melewati berbagai macam percakapan, saya lebih banyak mengenal seseorang bernama Ayah, banyak kisah yang diceritakan seperti masa masa ketika beliau berkontribusi, mendengarkan curhatan banyak orang, hingga bagaimana beliau mengasuh anak-anaknya hingga tumbuh menjadi anak yang begitu bertanggung jawab.

Mengenang percakapan percakapan pada "kunjungan sore" itu, pikiran saya kemudian beralih kepada sosok "Ayah" lain di rumah sederhana beberapa kilometer dari rumah itu. Sosok "Ayah" yang juga gemar sekali bercerita, berbagi pengalaman. Per hari kemarin, sebelum saya menulis hal ini, sosok "Ayah" itu baru saja membuat putrinya ini menangis. Ya, bukan pertama kalinya "Ayah" membuat saya menangis. Bukan karena beliau tidak menjalankan perannya dengan sangat baik, bukan. Bagaimanapun, beliau adalah "Ayah" terbaik. Beliau akan selalu bersedia melindungi saya dari apa pun, bahkan dari makhluk kecil tidak berdaya yang bernama "kecoa". Hanya saja, saya masih belum bisa memahami apa yang menjadi keinginan beliau, sebagaimana beliau yang juga tidak selalu memahami apa yang menjadi keinginan saya. Saya tidak pernah tahu caranya menyampaikan keinginan saya. Tidak ada yang pernah mengajari kami caranya saling berkomunikasi sebagai Ayah dan anak. "Ayah" lebih banyak berbicara, saya lebih banyak mendengar. Sesederhana itu. Kami hanya berasumsi satu sama lain bahwa kami saling mengerti dan memahami. Peran sebagai anak mewajibkan saya untuk lebih banyak berkata "iya Pa" dibandingkan "Tapi kan..."

Dan apa kalian tahu, sulitnya memahami orang yang terlahir menjadi "Pahlawan" dalam hidup kita ternyata bukan hanya menjadi masalah saya, Banyak sekali anak di dunia ini, yang sampai di usia senja kedua orang tuanya, masih tidak bisa memahami sama sekali. Sepertinya, Psikologi Orangtua juga wajib dipelajari oleh setiap orang, sama pentingnya dengan mempelajari Psikologi Anak. Bukan hanya karena kita butuh memahami kedua sosok yang begitu mencintai kita tanpa syarat, tapi karena kelak, kita akan menjadi mereka. Sangat penting untuk melatih diri kita, mengambil, mencontoh, dan meniru apa pun yang dibanggakan dari mereka. Sama pentingnya dengan menjaga diri kita, dari memiliki sifat sifat tidak baik yang mungkin saja akan kita miliki kelak yang tanpa sadar akan kita tiru.

Belajar memahami, adalah proses tanpa kenal kelulusan, karena di dunia ini tidak ada orang yang benar benar saling memahami, pun dengan kita dan diri sendiri. Tapi memahami adalah proses pembelajaran yang harus selalu kita lakukan, karena tanpa proses itu, kita tidak akan pernah mengerti betapa berharganya kita bagi mereka.

 Memahami "Ayah" adalah Pe Er yang tak ada habisnya. Perjalanan hidupnya yang luar biasa, buku buku yang dibacanya, karya karya yang ditulisnya, adalah rangkaian sejarah yang jika dibukukan sekali pun entah akan menghabiskan beberapa naskah.

Tapi lalu, saya cukup memahami satu hal, yang sangat sederhana, dan hanya dengan mengingatnya rasa sulit dalam memahami pun sirna seketika.

Satu hal yang saya pahami tentang Ayah "He loves me".

Selamat Hari Ayah.

Dear Papa, terima kasih.......

Jakarta, 12 November 2014






Sesekali





Sesekali,
Berbincanglah pada gelisah. Tanyakan padanya tentang keberadaan. Mungkin..sedikit percakapan dapat membuatnya tenang

Sesekali,

Habiskan malam untuk berbicara pada rasa enggan.Bujuklah untuk kembali mencoba, mungkin esoknya ia tak kan ragu lagi melangkah

Sesekali,
Ajaklah bicara si tak percaya diri. Lalu ajarkan caranya menulis mimpi. Kelak, ia tak akan khawatir dengan jurang di depan mata.

Ya Kawan, sesekali.. kunjungilah sisi lain yang kita sembunyikan di balik pagi. Sedikit demi sedikit, kita akan tersenyum tanpa tapi

_miezfy_


Resensi Novel: Bumi





Well,

Sejauh saya kenal beberapa nama novelis Indonesia, seperti Dee, Asma Nadia, Kang Abik, Andrea Hirata, dll, Bang Tere adalah novelis yang sesuatu banget. Gak cuma produktifitasnya yang tinggi, kualitas tulisan yang bagus dari hari ke hari dan sarat akan makna, tapi baru kali ini saya menemukan novelis Indonesia, yang dengan gaya kepenulisan yang sama, mampu menghasilkan novel dengan banyak jenis genre.
Banyak yang sepakat, Bang Tere TOP banget untuk genre roman. Tengoklah Sunset Bersama Rosi, Aku Kau dan Angpau Merah, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Tapi, novel dengan genre keluarga pun, sangat sangat bisa diacungkan jempol. Tentunya sudah pernah membaca Ayahku (bukan) Pembohong, Hafalan Sholat Delisa.

Saya lalu tambah terdecak kagum oleh bang Tere saat membaca genre apa ya namanya? Entah action, atau politik. Apapun itu, Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk mungkin saya rekomendasikan sebagai the must read novels ever. Kisah mengenai konsultan jenius ini, meski gak sedahsyat novelis sekelas Inferno, tapi menurut saya sangat berkelas.

Dan... gak berhenti di dua novel tadi, lagi lagi Bang Tere mengejutkan pembaca novelnya dengan menerbitkan serial "BUMI". Awal membaca summary nya, saya berpikir ini mungkin seri keluarga lagi, sama seperti seri anak anak Emak. Atau mungkin kisah psikologi sebagaimana novel novel lain.
Tapi saya benar benar kaget, saat mulai membaca 3 Bab novel ini. 

Dear Bang Tere, are you kidding us? Saya bener bener gak nyangka, si penulis novel ini adalah orang yang sama dengan yang menulis novel seromantis Sunset Bersama Rosie, atau penulis yang sama dengan novel semenyentuh Hafalan Shalat Delisa.

Well... believe it or not. Novel ini memang karya besarnya seorang Tereliye. Novel dengan genre fiksi yang penuh imajinasi sebagaimana kita pernah membaca Harry Potter, Eragon, Divergent. 

Berkisah mengenai Ra, anak berumur 15 tahun yang memiliki kemampuan bisa menghilang, dengan Seli dan Ali, teman sekelasnya. Mereka terlibat petualangan seru di "dunia lain", di tempat yang sama bernama Bumi. Ada 4 klan yang hidup di Bumi secara terpisah, lalu ada masa lalu, petarungan, misteri. Yah... baca sendiri lah.. biar seru. haha

Do I like it?
Yes, I do.. as always. Memang sih, jangan berharap akan menemui kisah semenegangkan Harry Potter, atau bahkan Twilight. Tapi, untuk saya yang merindu pada masa masa kecil yang penuh imajinasi. Novel ini, benar benar mampu membuat saya tersenyum selama membaca.

Selamat Bang Tere. Sepertinya Anda memang terlahir untuk menulis...
:D

Rasa rasanya




"Rasa rasanya…. aku belum pernah merasakan jatuh cinta".
Ungkap seorang kawan di suatu malam. Aku tersenyum senang mendengarnya.

Kamu tahu kawan… tidak ada yang istimewa dari jatuh cinta. Ada perasaan senang tercampur gelisah, perasaan rindu tercampur ragu. Tiba tiba saja ada banyak kupu kupu. Ah… bagiku… jatuh cinta itu merepotkan. Semakin kamu bahagia, semakin besar juga luka yang terasa kelak. Biasa sajalah. 

Bukankah hidup kita saat ini menyenangkan? Memiliki teman yang banyak, keluarga yang utuh, pekerjaan yang bagus, cita-cita yang tinggi. Terlebih dari semua itu, kita punya keimanan dan keislaman….
Suatu saat nanti kita akan jatuh cinta. Jika belum… baguslah. Itu berarti… kita masih diizinkan bahagia tanpa harus terluka.
Aku serius kawan…. nikmati masa masa di mana jatuh cinta itu belum menghampiri. Bagiku… itu adalah masa masa yang menyenangkan. Kamu bisa berbagi dengan siapa pun… dengan apa pun, mengunjungi tempat mana pun yang kamu suka tanpa khawatir tentang hal sederhana bernama ‘perpisahan’ dan ‘pertemuan’.
Jagalah hati itu… hati yang tak terjatuh.
Berdoa saja… semoga kelak, ia akan jatuh di saat dan tempat yang tepat.
November 20th
Miezfy
RSIA Restu Kasih, Cililitan

Senja Jakarta Hari Ini



Tak pernah habis dunia bersajak tentang senja
Seperti hari ini
Aku menyapa senja dari balik jendela transjakarta
Mengagumi jingga malu malunya bersembunyi di balik pencakar langit
Biru yang menggelap perlahan tersenyum mengantar malam
Kerlap kerlip lampu pengguna jalan memesona ibukota
Tapi hanya aku yang mengagumi senja Jakarta
Mereka di kanan kiriku tak menyadari cantiknya
Terlelap dalam tidur pura pura
Atau menenggelamkan diri bersama gadget
Senja hari ini memang istimewa
Dia tak lagi muram dan basah
Begitu cerah bak putri raja jatuh cinta
Padahal ini awal musim penghujan
Aku menatap senja sampai ia tiada berganti gelap
Dari mengagumi ciptaanNya.. kini saatnya berkisah padaNya tentang kekaguman itu
Meski Ia tahu…dan selalu tahu…
Paling tidak ingin kusampaikan terima kasih kepadaNya karena telah menciptakan senja…

November 18th, 2013
@miezfy
Tranjakarta Tj Priok-Cililitan

Saat




Saat september, aku menunggu Desember
Desember datang, aku menunggu Januari
Kini menunggu datangnya Juni
Lalu saat Juni tiba… akankah kembali menunggu Januari?
(Permulaan tahun,2013)
Juni itu telah terlewati…
tidak hanya Juni. Tapi juga Juli, Agustus, bahkan Desember sedang dalam perjalanannya untuk tiba.
Tapi aku tak lagi menunggu apa pun. Tidak juga Januari.
Tiada hari tanpa langkah
Tiada bulan tanpa perjalanan
Tiada tahun tanpa pembelajaran
Sebuah kehidupan baru, tanpa penantian.
18 November, 2013
Sunter Podomoro

Sebuah kisah




Aku suka pantai…
Melihat cantiknya matahari dan warna jingga malu malu…
Bermain bersama pasir, menapak jejak….
Menyatu dalam lautan, mengenal kebebasan.
Pantai dan lautan
tempat terbaik untuk bercerita tentang rindu
Penat terlepas menjadi untaian sajak
Bisik hati menjelma sebagai angin pengantar pesan
Romantisme yang ditawarkan, membuatku hanyut dalam kisah senja yang indah.
Aku suka pegunungan…
Menikmati lelah dalam pendakian menuju puncak.
Bercengkrama dengan pepohonan, bebatuan, sesekali kerikil tajam.
Memaknai kehidupan bersama edelweis, bunga keabadian yang tetap indah sekalipun telah habis masa rekahnya.
Mengunjungi negeri di atas awan,  merasakan kebebasan.
Pegunungan dan negeri di atas awan adalah tempat terbaik untuk bercerita tentang impian
Ragu terlepas menjadi cita-cita
Bisik hati menjelma sebagai harapan
Ketegaran yang mereka tawarkan membuatku bangkit dari kisah sesak di suatu pagi.
Kisah tentang gunung dan pantai,
Lautan dan negeri di atas awan…..
Adalah kisah tentang mengenal luka. Mengenal datangnya, mengenal perginya.
Datanglah ke pantai, pergilah mengenang bersama lautan.
Datanglah ke gunung, rayakan rasa sakit bersama negeri di atas awan…
November, 17, 2013
Kelapa dua wetan

IBU (Teater Koma) -- Sebuah Ulasan

Sebenarnya ini bukan resume yang terbaik. Selain sudah pernah terhapus karena sebuah kesalahan bodoh, masih banyak para blogger penikmat seni yang telah mengulas lebih komprehensif. Bahkan, karena keterbatasan gadget, saya hanya bisa mengambil foto-foto dari google saja.. hehe.

***

Well... ini mungkin memang bukan pertunjukan teater pertama yang saya hadiri. Hmm.. tapi bisa dibilang ini adalah pertunjukkan teater berkelas pertama bagi saya. Teater Koma sendiri merupakan salah satu teater ternama yang sudah menggarap beberapa karya para dramawan dunia antara lain William Shakespeare, Georg Buchner, Moliere, Aristophanes, Arthur Miller, George Orwel, Alfred Jarre, Friedrich Durrenmatt, Evald  Flisar, dan Bertolt Brech. Siapa mereka? Silahkan googling ya. Di antara semua karya yang dipentaskan Teater Koma tersebut saya hanya tahu Romeo Yuliet dari William Shakespeare. Haha.

Pementasan yang saya dan keempat teman AADT hadiri 14 November lalu itu berjudul IBU, disadur dari naskah BERTOLT BRECHT, seorang dramawan sekaligus penyair legendaris asal Jerman dengan judul asli Mutter Courage und Ihre Kinder (Mother Courage and Her Children). Disutradarai oleh N. RIANTIARNO, produksi ke 131 Teater Koma ini digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.

Sosok IBU dan keretanya yang menggantung langsung menyambut kami di pintu masuk. Beberapa menit keterlambatan tidak mengurangi ke "excited"an saya akan pertunjukan ini. Meski harus mengeluarkan uang yang lumayan (setara dengan dua tiket XXI), tapi tidak mengapa. Bagi saya... pertunjukan teater selalu keren dan menarik. 

 
 photo by me

Saya langsung dibuat kagum oleh sosok Ibu Brani yang diperankan oleh Sari Madjid. Permainan karakter yang benar-benar hebat. Begitu kuat dan stabil. Seakan terperangkap pada alur cerita bersama sosok Ibu Brani yang tegas, penuh keberanian, dan gigih. Ibu Brani beserta ketiga anaknya- si sulung Elip, Fejos si Keju Swiss, dan si bungsu bisu Katrin- hidup di tengah peperangan antara dua resimen yang memperebutkan kekuasaan, yaitu Matahari Hitam dan Matahari Putih. Prinsip Ibu Brani, dia tidak mau terlibat tapi harus memperoleh keuntungan dari peperangan. Sedikitnya jumlah pedagang kelontong menyebabkan Ibu dan ketiga anaknya bisa leluasa berjualan dengan kereta warungnya.

 Ibu Brani dan ketiga anaknya (source: foto.ureport.news.viva.co.id)

 Ibu Brani (source yudasmoro.net)


Sayang, malang tak dapat ditolak. Meski sudah dilarang keras, secara berturut turut, Elip dan Fejos pun masuk menjadi tentara Matahari Hitam. Elip masuk terlebih dahulu sebagai prajurit, sementara Fejos masuk setelahnya sebagai Juru Bayar. Tinggallah Katrin si bisu yang menemani Ibu Brani berjualan. Ibu selalu berjanji kepada Katrin untuk mencarikan suami saat perang telah berakhir. Dia tak mau nasib putrinya sama seperti Ipit Poter (di naskah asli bernama Yvette Pottier), wanita jalang langganan warung Ibu Brani. Lalu, dua pria masuk ke dalam kehidupan ibu Brani. Kaplan, pendeta Matahari Hitam yang menyamar serta Domba si Koki (atau Piter si Pipa).

 Ipit Poter (source : nimadesriandani.wordpress.com)
 
 Ibu (tengah) di antara dua pria, Piter si Pipa (kiri) dan Kaplan si pendeta (kanan) (sumber : www.adjisubela.com)


Elip si sulung menikmati masa masanya menjadi prajurit. Kecerdasan yang selalu dibanggakan oleh Ibu Brani itu menjadikannya orang yang dipercaya oleh para jenderal. Tapi bukan peperanganlah namanya, jika seorang prajurit jauh dari bedil yang menembak. Sementara Fejos, meski kurang cerdas, tetapi kejujuran yang selalu dibanggakan Ibu juga membawanya menjadi orang kepercayaan.

 Elip (kanan), Jenderal (tengah), pendeta (kiri)  (sumber : nimadesriandani.wordpress.com)

Katrin Hupla namanya. Ia bisu. Tapi, di antara semua peran, dia adalah favorit saya. Padahal saat di awal, saya berpikir... "ih...garing amat dapat peran jadi orang bisu. Gak ada dialog yang harus dihapal". Coba bandingkan saja dengan sosok Ibu yang harus menghapalkan berbaris baris bahkan berlembar lembar dialog panjang. Tapi.... bisa jadi justru peran inilah salah satu yang tersulit. Diperankan oleh Ina Kaka, sosok Katrin adalah yang paling menarik perhatian, dan sekaligus paling banyak mengundang tawa. Keluguan, kepolosan, dan spontanitas tanpa katanya sukses mencuri hati penonton. Salah satu adegan yang paling saya ingat adalah saat Katrin begitu stress karena Fejos tak juga mengerti apa yang ia coba jelaskan. Seluruh anggota tubuh yang bergerak menggantikan bahasa kata yang tidak dimilikinya. Kalimat Fejos "hanya Ibu yang mengerti kamu" dan ekspresi stress Katrin langsung mengundang tawa kami.

 Katrin (kiri) dan Fejos (kanan) saat Katrin sedang berusaha menjelaskan keadaan bahaya pada Fejos. (sumber : nimadesriandani.wordpress.com)

Banyak adegan yang mengundang tawa bukan berarti ini adalah kisah komedi. Setelah Katrin gagal menjelaskan kepada Fejos tentang kedatangan prajurit musuh ke tempat mereka saat dia pergi, Fejos tetap meneruskan rencananya untuk membuang peti uang ke sungai. Dan tertangkaplah ia. Ibu Brani pun pada akhirnya melakukan tawar menawar untuk menebus anaknya melalui Ipit Poter. Tapi..waktu tawar menawar yang terlalu lama membuat semuanya terlambat. Fejos pun terbunuh dengan 11 tembakan di tubuhnya. Lebih menyedihkan lagi.... Ibu Brani terpaksa tidak mengakui jenazah anaknya saat prajurit itu datang membawa tubuh tergulai yang tidak bernyawa itu pada mereka. Adegan ini adalah adegan yang terbaik menurut saya. Kebisuan Ibu Brani, tangis tanpa kata dari Katrin... cukup menggambarkan suasana yang lebih dari sekedar kesedihan. Penyesalan, rasa kehilangan yang besar, ketidakberdayaan, terasa begitu nyata oleh akting yang minim kata saat itu. 

 Katrin dan Ibu Brani saat mendengar kematian Fejos. Oh maan.. saya paling suka adegan ini. (sumber : cabiklunik.blogspot.com)

Singkat cerita, perdamaian pun tiba. Perdamaian yang dinanti sejak lama. Saat di mana Katrin sudah dijanjikan Ibu untuk dicarikan seorang suami. Tapi ternyata perdamaian tak lagi indah. Katrin mendapatkan cacat di mukanya setelah sebelumnya diserang oleh prajurit saat perjalanan ke pasar. Ia tak lagi mau bertemu siapa pun. Selain itu, bagi Ibu Brani, perdamaian berarti kebangkrutan karena kereta warungnya tak lagi ramai. Saat semua orang berbahagia karena perang, Ibu dan Katrin justru tenggelam dalam kepasrahan nasib.

Elip yang ditunggu tunggu pun datang. Tapi saat itu, Ibu tengah ke pasar untuk menjual kembali barang dagangannya. Tapi Elip datang tidak sebagai pria bebas. Ia datang bersama dua polisi. Kebiasaannya membantai petani saat jaman perang dulu, membawanya ke dalam posisi sulit. Belum sempat bertemu ibunya, ia pun pergi bersama kedua polisi tersebut.......dan tidak pernah kembali.

Perdamaian setelahnya tinggallah nama. Perang berkecamuk lagi. Setelah ditinggalkan oleh Kaplan si pendeta, kini giliran Piter yang menemani Katrin dan Ibu. Kehidupan mereka semakin sulit. Rakyat semakin miskin dan tidak mampu membeli. Sampai suatu ketika, Piter mengajak Ibu untuk hidup bersamanya mengurus bisnis penginapan. Tapi sayang, pria itu tidak ingin Katrin yang bisu dan cacat turut serta. Dan karena itu, Ibu Brani meninggalkan Piter. Tinggallah mereka berdua saja yang menarik gerobak...

Kisah ini pun mencapai akhirnya. Saat Katrin yang lugu, polos, dan naif mengeluarkan keberaniannya membunyikan genderang untuk meminta bantuan. Upayanya menuai hasil... tapi sayang, itu adalah keberanian pertama dan terakhir yang dikeluarkannya. Katrin pun tertidur untuk selamanya akibat luka tembak dari prajurit Matahari Putih.

kematian Katrin (source : www.jakpost.travel)

Tidur,tidurlah anakku sayang
Tiada lagi yang perlu kau risaukan
Satu anakku mati di tanah seberang
Satu lagi entah di mana sekarang
-senandung sang Ibu sambil mengusap jenazah putrinya-

Ibu Brani pun tetap melangkah dalam perang yang masih berkecamuk, menarik keretanya, sebatang kara.....
 
-the end-

***

Ini bukan kisah tentang hubungan romantis antara anak dan orangtua. Tidak juga bercerita tentang kisah mengejar impian dan cita-cita. Bagi saya kisah ini seakan mengatakan bahwa bertahan hidup bukanlah perkara yang mudah. Kita akan selalu dihadapkan dalam pilihan. Seperti Ibu yang memilih kereta warung untuk berjualan demi mempertahankan hidup. Seluruh dunia boleh mengutuk peperangan. Tapi baginya, perang adalah ladang uang. Tapi.... peperangan tetaplah peperangan, tak pernah sedikitpun membawa kebaikan. Baik bagi pihak yang menang maupun bagi pihak yang kalah, peperangan tetap merupakan nestapa untuk rakyatnya. Bahkan bagi orang yang mengambil untung dari peperangan seperti Ibu Brani, tetap saja peperangan merenggut harta yang paling berharga, anak-anaknya.

Selebihnya ini adalah kisah tentang kondisi peperangan, kebusukan penguasa, korupsi, penyuapan, dan hal-hal sejenis bernama 'ketamakan' yang hidup bersama perang.

It was totally awesome...

Makasih buat Teguh, Nita, Offi, Lisdha, dan Arga (meski gak jadi nonton).
Resume yang "apalah ini" saya tulis secara khusus untuk AADT. :)

Seni menikmati seni




Ah... sudah berapa lama ya tidak menikmati panggung megah itu sebagai penonton. Terakhir kali saya menikmati pertunjukan teater adalah saat menyaksikan sebuah pementasan di GBK. Tapi saya kurang puas entah kenapa. Atau sebelumnya lagi.. saat sendiri bermain dalam pementasan "Lysistrata", saat event wisuda SMA dulu.
Fyi, tidak semua orang mengerti cara menikmati pertunjukan teater. Jelas.. jauh berbeda dengan menonton sinema layar lebar. Kita tidak akan menemukan layar yang membentang di sepanjang sisi ruangan, dengan ekspresi yang jelas dari masing-masing pemain. Kita juga tidak akan menemukan efek efek dahsyat yang akan membuat kita berdecak kagum, menutup mata karena kengerian,berteriak karena kaget, atau menahan nafas karena tegang.
Yang lebih terasa perbedaannya adalah saat seorang teman menolak ajakan nonton teater ternama yg akan saya kisahkan pertunjukannya ini dengan sebuah alasan realistis... "bayar tiket nonton itu sama aja beli dua tiket bioskop. Mending nonton bioskop aja dong"
Well..dude. Biarlah orang berkata apa. Sebuah seni itu sejatinya tidak dihargai dengan cara matematis.
Duduk di bangku VIP mungkin tidak akan membuat perbedaan jauh itu terlihat. Karena semua ekspresi, terbaca dengan jelas...
Tapi...cobalah rasakan saat berada pada bangku kelas reguler, di sanalah seni dalam menikmati pertunjukkan akan benar benar terasa.
Pertunjukan teater adalah seni peran tingkat tinggi. Tidak semua aktor ataupun aktris film bisa memainkannya. Mementaskan sebuah pertunjukkan berdurasi panjang di panggung megah, dengan vokal yang stabil dari awal sampai akhir jelas membutuhkan teknik tingkat tinggi. Belum lagi, untuk menyampaikan pesan pada penonton bangku belakang seperti kami... tidaklah cukup dengan suara ataupun mimik wajah. Jelas...kami tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Itulah mengapa... dalam seni peran ini, seluruh anggota tubuh adalah ekspresi, harus bergerak. Beda banget kan sama sinetron Indonesia yang cuma ngeshoot muka dengan make up menor.
Jangan terpaku pada jalan cerita. Kita tidak sedang menonton drama korea di layar kaca dengan para pria tampan dan wanita cantik. Banyak hal yang bisa kita nikmati dari pertunjukkan tersebut. Kesuksesan peran yang dimainkan, pesan yang ingin disampaikan, dekorasi panggung yang keren, musikal yang indah, penataan cahaya dan suara yang luar biasa, keteraturan blocking, ldan masih banyak lagi. Seakan akan melihat satu kesatuan seni yang indah. Sebuah keberaturan, kreativitas dan imajinasi yang berkolaborasi dalam panggung megah.
Rumus sederhananya adalah...
Setiap orang tidak bisa menikmati semua jenis seni.
Seperti saya yang begitu menyukai puisi, tapi tak pernah paham cara menikmati lukisan. Saya tidak pernah mengerti mengapa sebuah gambar pot bunga saja bisa bernilai hingga puluhan juta.
Jadi menikmati sebuah pertunjukan, harus diawali dengan ketertarikan dan bisa sedikit pengetahuan tentangnya. Asa beberapa pertunjukan yang bisa dinikmati oleh semua orang... tapi tidak sedikit pertunjukkan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mengerti cara menikmatinya.

Sesuatu itu Bernama Hati




Sesuatu itu bernama hati.

Tidak berwujud tidak berbentuk. Ia berada menyatu begitu saja dengan tubuh. Menghubungkan otak,jantung,pembuluh darah dan organ kinestetik luar. Beberapa berpendapat bahwa hati mungkin saja jantung. Mungkin karena ia dekat dengan kehidupan.

Tapi... hati lebih dari sekedar detakan yang membentuk irama. Hati bukan hanya gumpalan daging yang berwarna. Ia berada jauuuh.... di sisi terdalam manusa. Dekat dengan naluri.

Kita tidak bisa melihatnya. Tapi bisa merasakannya. Hati melahirkan kasih sayang,simpati,kepedulian,dan semangat. Melalui hatilah, Tuhan selalu berbicara dengan kita. Saat tak ada hijab antara hati kita denganNya... saat itulah hati kita selalu dipenuhi olehNya.

Tapi....hati ibarat mutiara indah yang berada di dunia luar. Ia begitu mudah untuk ternoda. Terkadang ia sakit,oleh ulah dari yang namanya iri,dengki,dendam. Sering sekali ia lusuh karena debu debu prasangka yang selalu hadir. Bahkan banyak yang menghitamkan hatinya sehingga tak bisa sama sekali dirasakan keberadaannya.

Hati juga sangat rapuh, bagaikan gelas berlian yang mudah pecah. Tidak ada hal sebaik keimanan yang bisa menjaganya. Saat iman lemah,ia akan mudah untuk patah bahkan ternoda.

Tuhan menciptakan hati yang begitu mudah ternoda bersamaan dengan Taubat sebagai pencucinya. Hati bisa kembali bersih dan selalu bersih dan semakin bersih. Bahkan.... Taubat lah yang bisa menguatkan kembali hati yang retak.

30 Maret 2013
00.16 a.m

Mendefinisikan Karakter



Sangat lucu saat membuka ratihkumaladewi.blogspot.com, penasaran dengan orangnya seperti apa, lalu membuka link "about me" dan menemukan tulisan Ratih 5 tahun lalu. Buat orang yang baru mengenal saya, pasti terkejut saya bisa menulis seperti itu. Buat orang yang sudah lama mengenal saya, so pasti tidak heran kan.. :)

Saya tidak selamanya menjadi anak kecil yang polos, yang tertawa riang saat bahagia, dan nangis bombay lebay di kala sedih. Seorang sanguinis pun memiliki kewajiban untuk menjadi dewasa. Cita-cita saya saat masuk kampus adalah menjadi wanita anggun. haha. #seriously. Kesampaian? Hampir, saat di tingkat empat, kalau saja saya tidak bertemu dengan anak-anak usil yang sampai hari ini mewarnai kehidupan saya dengan persahabatan mereka.

Dulu saya pernah berpikir, menjadi orang sanguinis itu tidak keren. Coba liat orang-orang Melankolis, hidup mereka tertata rapi seperti buku agenda. Coba lihat orang-orang korelis, kemampuan mereka memimpin dan membuat keputusan seperti singa. Coba lihat orang-orang plegmatis, hidup mereka damaiii sekali. Bandingkan dengan kami, para sanguinis, tim hore yang lebai. Tapi kini saya sadar, karakter manusia tidak sesederhana itu. Tidak selamanya seorang Ratih adalah seorang sanguinis. Kalo kamu pernah baca puisi-puisi yang saya buat, kamu akan percaya bahwa saya ini adalah melankolis sejati, karena melownya total sob! hehe. Kalau kamu pernah lihat saya memimpin anak-anak saat di MPKMB, atau MPF, kamu pasti percaya bahwa jiwa korelis saya ni lumayan laaah. Kalau kamu pernah terlibat dalam penyelesaian masalah pertikaian antar teman bersama saya, kamu pasti percaya saya ini cinta damai.. #peace, plegmatis asli kan. :) 

Mendefinisikan karakter itu menjadi hal yang harus kita lakukan minimal ketika wawancara kerja. Pertanyaan.. "jelaskan kelebihan dan kekurangan kamu", itu ternyata bukanlah sekedar pertanyaan. Banyak orang yang baru sadar bahwa mereka tidak mengerti jawaban atas pertanyaan itu. Termasuk saya. Hehe. Saya ini orang yang sangat jago diplomasi jawaban (bahasa kerennya "ngarang"). Bisa jadi jawaban2 tentang "siapa saya" yang saya utarakan saat wawancara kerja hanyalah jawaban diplomatis semata.. bisa jadi. Bisa jadi benar, bisa jadi... sedikit benar (karena saya tidak  berbohong loh. Hehe).

Setiap dari kita memiliki gaya yang berbeda dalam mendefinisikan karakter. Ada yang menjelaskan dengan sistematis, ada yang menjelaskannya dengan penuh ketegasan, ada yang menjelaskannya datar datar saja, ada yang menjelaskannya dengan sangat abstrak. Hei...bahkan cara kita mendefinisikan karakter secara tidak langsung telah menjelaskan karakter kita.

Baiklah.....bagaimana kalau kita sepakati, tak usahlah repot repot mendefinisikan karakter. Berhentilah di titik di mana kita cukup memahami cara menghadapi diri sendiri. Karena, dibandingkan mendefinisikan karakter yang tak jelas sitasinya, memahami diri sendiri dengan baik sudah lebih dari cukup. :)

Selamat belajar mengenal diri sendiri, seperti saya yang masih mencari jawaban terbaik untuk "siapa saya?"

Cantik

Aku suka sekali menjadi cantik. Menjadi seperti mereka yang berpose indah di layar kaca. Bukannya dunia memuji mereka? Dengan gaun indah bertabur emas, wajah mulus dengan pipi merona. Tidak ada orang yang tidak suka kecantikan. Banyak wanita yang rela melecetkan kaki, menambah beban muka dengan make up, berjam-jam di depan kaca, hanya demi ‘terlihat cantik’. Ya, banyak wanita, dan mungkin juga aku. Apalagi jika semua pengorbanan itu dibalas dengan pernyataan “wah..kamu cantik ya”. Percayalah, tidak ada wanita yang tidak suka dipuji kecantikannya. Termasuk aku, dan mungkin juga kamu. Kecantikan itu adalah sesuatu yang indah.

Tetapi, persepsi cantikku kini sudah bergeser. Setelah aku menyadari, bahwa saudar saudari ku yang cantik itu, justru mengurangi kecantikan mereka dengan ‘perlengkapan cantik’ mereka. Sungguh, lalu aku pun membandingkan diriku sendiri.

Ya, dear all girls in the world, ternyata bukan sepatu tinggi, baju modis, make up tebal, atau aksesoris mahal yang membuatmu cantik. Aku baru sadar, bahwa yang membuat wanita cantik itu adalah senyuman mereka. Senyum yang tulus, senyum yang apa adanya, dengan atau tanpa gincu. Yang membuatmu cantik adalah, wajah cerahmu yang memancarkan aura kebahagiaan, yang mungkin tidak akan terlihat karena dandanan yang tebal itu. Yang membuatmu cantik adalah, mata indahmu, yang memancarkan impian, ia terlihat begitu bersinar, bukan mata yang tertutupi soft lense, eyeshadow dan maskara.

Tahukah kamu? Cantik itu sangat sederhana. Bukan menjadi cantik yang membuatmu bahagia, tetapi kebahagiaan dan rasa syukurlah yang menjadikanmu cantik. Tidak masalah jika kamu tidak mengikuti trend dan mode, kamu akan tetap cantik dengan segala kesederhanaanmu.
Apalagi, jika kamu selalu memanjakan wajahmu dengan siraman air wudhu, dan doa. Kecantikanmu akan berlipat lipat……

Aku suka menjadi cantik. Tapi kini aku tidak pusing lagi dengan kecantikan, karena kesederhanaan, adalah kecantikan yang paling indah. :)

Belajar Merawat Indonesia


Belajar Merawat Indonesia.

Aku jatuh cinta sejak pertama kali mendengar judul buku yang berisi kumpulan tulisan tulisan saudara2 ku di Beasiswa Aktivis Nusantara ini. Nama BMI menjadi tagline yang benar-benar pas tidak hanya untuk kami, BAKTI NUSA Dompet Dhuafa, tetapi juga untuk para aktivis di bumi nusantara ini.

Well, mungkin selama ini kita terlalu sombong, mengatasnamakan bangsa untuk mengoreksi semua hal yang dilakukan pemerintah. Berkedok mahasiswa, bermodalkan almamater dan idealisme, lalu datang ke Jakarta dengan berbagai macam tuntutan di aksi jalanan. Ya, padahal kita masih bermasalah dengan nilai akademik yang tak kunjung membaik. Atau mungkin kita, masih menemui masalah dengan profesionalisme di dalam organisasi kita sendiri. Atau bahkan kita, yang pandai mengoreksi ini bahkan ternyata tidak pernah menyadari ada tangisan2 yang selalu mengiringi di setiap langkah kaki menuju kampus. Tangisan dari mereka yang kelaparan, dan kita tidak menyadari. Ya, mungkin kita terlalu sombong jika berpikir bahwa kita berhak untuk menuntut presiden untuk turun. Atau mungkin terlalu tinggi nama “agent of change” yang selama ini kita banggakan. Kalau status mahasiswa itu sudah berakhir, masih pantaskah gelar agen perubahan disandang? Atau kita hanya akan menjadi kumpulan manusia pencari nafkah yang hanya peduli dengan masa depan diri sendiri? Entah.

Tapi, pembelajaran yang penting yang kudapatkan dari “Belajar Merawat Indonesia” adalah, kita bisa jadi terlalu sombong mengatasnamakan perubahan untuk mengoreksi negri, padahal ilmu yang kita pelajari belum tentu lebih tinggi dari mereka yang duduk di kursi pemerintahan. Atau, kita bisa jadi terlalu tinggi menilai diri sebagai agen perubahan padahal untuk merubah kebiasaan jelek sendiri saja belum tentu mampu.

Namun, kupikir.. siapa pun kita, sebodoh apa pun kita, kita berhak dan berkewajiban untuk hal ini : “merawat Indonesia”. Ya.. aku tahu. Mungkin kita belum menjadi perawat yang handal, masih jauh untuk itu. Untuk merawat Indonesia yang tengah sakit ini, kita yang sekarang belum tentu mampu. Terlalu berat kawan. Tapi kita bisa, pasti bisa, karena semua hal yang kita lakukan bersama almamater ini, semua diskusi, semua karya, semua aksi, dan semua prestasi kita.. tidak lain dan tidak bukan adalah persembahan berharga untuk tanah air kita tercinta, sebagai usaha kita dalam Belajar. Ya…. Belajar Merawat Indonesia…

“HIDUP MAHASISWA” “HIDUP PEMUDA INDONESIA”
(btw, aku emang udah bukan mahasiswa. Tapi akan insyaAllah. hehe)

Tentang Lumba lumba

Tulisan ini ditulis setelah mendengar cerita temen gue tentang liburannya ke Killuan Dolphin Bay. Buat Sarah, kapan2 lo harus ke sana lagi ngajak gue ya!!!. hehe

Gue gak pernah habis pikir apa yang cewek2 suka dari boneka lumba-lumba. Emang sih, mukanya lucu. Tapi apakah mereka tahu? kalo aslinya lumba-lumba itu warnanya bukan biru apalagi pink. Tapi abu-abu. Gak ada lucu-lucunya. Gak bisa diajak maen, apalagi dipelihara. Kalo soal lucu, buat gue masih lebih lucuan kucing. Yes absolutely.. Kalo pun ada hewan lain yang lebih lucu dari kucing, mungkin Panda kali ya. Gendut gendut gimanaa gitu. Apalagi bayi panda, ngegemesin banget. Jauh lebih lucu ketemu hewan aslinya daripada sekedar boneka yang cuma bisa dijadiin pajangan.

Ya, yang tergila-gila pada boneka lumba-lumba berwarna biru salah dua di antaranya adalah adek gue, si sipa, sama sahabat gue, enung. Kalo kasih kado ke mereka gak susah. Cari aja boneka lumba lumba, nanti mereka juga bahagia. haha.

Itu adalah pemikiran gue dulu. Meski lumba-lumba sering dikisahkan sebagai ikan yang baik di berbagai film, buat gue biasa aja. Soal ikan, mungkin gue lebih suka ikan paus, karena lebih gede dan lebih keren. Apalagi ikan paus yang di film free willy itu. Keren abisss.

Tapi…… percaya atau nggak. Gue pada akhirnya pun jatuh cinta pada pada lumba-lumba. Bukan.. bukan karena melihat kecerdasan mereka saat main di gelanggang samudera. Bukan juga pas ngeliat mereka main di beberapa film kartun. Bukan juga karena lucunya boneka lumba-lumba yang dipasarkan di mana-mana (bagi gue itu lebih terlihat sebagai ulekan dikasih mata dan diwarnain).

Yup, gue bener-bener jatuh cinta ketika lihat sendiri sekawanan lumba-lumba muncul dari bawah permukaan laut lalu mengantar kepergian gue dan temen-temen ke perjalanan pulang menuju Jepara. Mereka melompat dengan sangat indahnya. It was totally Awesome!!!! Menurut gue itu super keren.

Jadi, pandangan gue terhadap lumba-lumba itu berubah. Meskipun gue tetep berpikir bahwa boneka lumba-lumba itu lebih mirip ulekan dikasih mata dan diwarnain, tetapi gue jadi suka. Setiap lihat boneka lumba-lumba, gue selalu inget sama lumba-lumba di laut lepas. Yup.. ternyata, jauh lebih bahagia melihat mereka berenang dan bermain bebas di lautan dibandingkan melihat mereka beratraksi di Gelanggang Samudera.

Semoga bisa lihat lagi….. :)

Tentang ikhlas


Satu lagi pelajaran tentang ikhlas.

Mungkin kamu pernah mengalaminya… meski duluuu sekali. Seseorang bisa saja tidak menyukaimu baik itu karena kesalahanmu atau karena ketidaktahuan mereka tentang dirimu. Seseorang bisa jadi menghujatmu. Entah itu terang2an di depanmu, atau di belakangmu dan kau tak sengaja mengetahuinya.

Ah.. jangankan kamu, manusia dengan segudang dosa. Rasulullah saja mengawali dakwahnya dengan dicaci,dimaki, dan dihujat oleh banyak orang. Jadi, apalagi kamu.

Ya.. aku tahu. Dulu.. kamu mungkin membalasnya. Kemandirianmu mengajarkanmu untuk tidak membiarkan seseorang menjatuhkanmu. Salah satu cara untuk bertahan hidup, pikirmu.
Tapi itu dulu… sebelum kamu kenal konsep ikhlas dari Rasulullah, sebelum kamu belajar indahnya dakwah Rasul dalam Shirah. Bahwa, membalas itu bisa saja dilakukan, tetapi memaafkan itu sesungguhnya lebih baik bagimu.

Maka… tersenyum, ikhlas, dan tetaplah melangkah.

Allah tahu, bahkan lebih mengetahui.. jumlah air mata dan tetes keringat yang kamu keluarkan dalam proses mencari Ridho-Nya.

Tentang Amanah


“Sebuah tanggung jawab”, itulah jawaban kebanyakan orang ketika ditanya mengenai amanah.
“Sesuatu yang bisa jadi mengantarkan kita ke surga, atau menjerumuskan kita ke neraka”, beberapa menjawab seperti itu. Ya… itu juga benar.
Orang yang mengetahui besarnya konsekuensi di balik amanah (terkait posisi/jabatan) tidak akan pernah memintanya. Tapi.. hidup tanpa amanah pun bukan pilihan yang bagus juga. Selama ini, orang melihat sesuatu bernama amanah sebagai sesuatu yang begitu rigid. Tidak sedikit yang menyikapinya dengan tidak bijak. Sehingga hal-hal bernama keluhan, berat hati, kecewa, sedemikian serinh terjadi.

Ya….begitu banyak sudut pandang terhadap dunia, banyak pula sudut pandang terhadap amanah.Kalo buatku, amanah tidak hanya sekedar tanggung jawab. Ia adalah bentuk penjagaan terhadap diri. Ia juga merupakan wadah pembentukan diri, dan akselerasi keahlian. Berat memang, tanggung jawab itu. Apalagi hisabnya kelak. Kalau memikirkan itu.. rasanya ingin hidup sebagai rakyat biasa saja.

Tetapi… seseorang pernah berkata :

bukan hanya sebatas jabatan/posisi baik formal atau informal yg d berikan kpd kita .. , lebih dari itu .. Amanah juga berarti kepercayaan yg Allah limpahkan kepada kita, seorang Muslim untuk senantiasa menyeru kepada kebaikan .. Dan menjadikan kita untuk terus memperbaiki diri, menjaga hati serta mendekatkan diri pada Illahi

Maka, apa pun yang tengah kita kerjakan, diminta atau pun tidak, terdapat tanggung jawab atas ilmu dan pengetahuan yang kita miliki. 

Selamat berkarya. :)

Belajar


Teringat kata-kata Bu Nuk saat aku menyampaikan keinganku untuk melanjutkan studi. Bu Nuk adalah General Manager Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa sekaligu ‘ibu’ nya anak-anak beasiswa aktivis. Kalau diomelin beliau itu, rasanya bukan kesel atau pun menyesal, melainkan rasa senang yang muncul akibat aura kasih sayang yang tulus beliau kepada kami semua.

Ketika itu, aku cerita ke Bu Nuk tentang keinginanku untuk lanjut studi. Di luar dugaan, bukannya mensupport habis-habisan, aku malah kena omel. Bukan.. bukan karena lanjut studi itu tidak bagus, tapi karena orientasiku tidak jelas. Hal ini juga yang sepertinya membuat assestment ku bersama tim Mas Romy dan Mas Fachri agak berantakan.

“Saya rencana mau S2” sampai sini belum ada masalah……

“Tapi memang saya gak berminat jadi dosen atau konsultan, atau sejenisnya” dan ketika statementent ini keluar barulah omelan demi omelan, nasehat yang panjang secara bertubi-tubi keluar dari mereka (di tempat dan waktu yang berbeda).

Bukan pilihan yang bijak katanya, melanjutkan S2 sebagai fresh graduate dengan tujuan profesional ataupun bisnis. Akan jauh lebih bijak jika mengenal dunia luar terlebih dahulu lalu kembali melanjutkan studi yang berhubungan dengan dunia profesional yang kita geluti. Lebih bijak, lebih dihargai, dan trade record nya lebih jelas.

Hmmmm….. aku mendengarkan dengan seksama penuturan yang kurang lebih redaksinya seperti itu dari mas Romy dan mas Fachri saat assessment Beasiswa Aktivis. Apalagi aku menyampaikan bahwa menjadi pengusaha adalah mimpi besarku, dan masuk ke dunia profesional menjadi star up nya (aneh sih, tapi aku punya alasan khusus soal ini. Sama sekali tidak berpikir untuk menjadi akademisi dan mengabdi pada kampus. No, it’s not my style.. :)

“Saya hanya ingin belajar mas. Pengen banget ngerasain duduk manis di kelas, mendekam di perpustakaan, benar-benar belajar dan hanya belajar” tuturku pada mas Fachri dan mas Romy

“Lanjut studi, bukan menjadi jalan menuju mimpi besar saya. Ia hanya keinginan saya. Sebagaimana seorang anak kecil yang menginginkan pergi ke Taman Bermain yang belum pernah dikunjungi. Perihal setelahnya akan jadi apa, atau bagaimana, Saya siap jika harus memulai dari 0 lagi. Saya ingin berkarya sebagai pembelajar, karena 4 tahun di kampus, saya lebih banyak belajar hal-hal di luar akademik” tuturku kembali dan aku sangat mengerti bahwa mereka tidak mengerti.

Yang membuatku tersentil adalah ketika kusampaikan hal serupa pada bu Nuk, dia menanyakan, apa bedanya dengan lanjut studi setelah bekerja.

Jawabanku adalah jawaban yang sangaaat realistis. “Kalau sudah bekerja, takut malas bu, keburu sibuk ngurus keluarga, malah gak kesampaian”…dan kata-katanya saat itu masih terngiang-ngiang sampai hari ini…

Belajar itu, tidak mengenal batas waktu, batas usia”. Kata bu Nuk menyampaikan ketidaksepakatannya. Bu Nuk juga menyampaikan tentang semangatnya yang masih belajar bahasa inggris di usianya saat ini.

Ah… Belajar.

Kalau ingat percakapan-percakapan dengan mereka dahulu, aku jadi mengerti. Untuk belajar pun harus ada tujuan yang jelas. Untuk belajar pun, harus ada strategi. Tidak harus lanjut studi, kita bisa belajar di mana pun.

Ya… tidak harus lanjut studi.

Hampir saja menyerah untuk meletakkan lanjut studi sebagai rencana prioritas. Sudah akan bergerak menjadi jobseeker, dan terjun ke dunia profesional, kembali ke tanah Jakarta, berjuang untuk menyejahterakan diri dan keluarga. Pikirku, mungkin di tengah jalan nanti akan ditemukan kembali jalan menuju tujuan itu. “Mungkin”, tidak ada rencana apa pun di dalamnya, hanya mengandalkan asas “lihat saja nanti”. Dan benar sekali, setelah S2 aku mau ke mana? Jadi dosen? Atau bersaing dengan lulusan S2 lainnya yang telah memiliki pengalaman kerja di dunia profesional? Kedua pilihan itu bukan pilihan yang bagus buatku.

Tapi kemudian, sebelum sebuah kesempatan datang, seseorang berkata…..

Kuliah S2 bukan hanya untuk jadi dosen, itu bentuk investasi ilmu di masa mendatang, insyaAllah  manfaatnya besar nanti

terpengaruh oleh kata-kata mas Romy dan mas Fachri, aku lupa hakikat sesungguhnya dari belajar, yaitu menuntut ilmu.Tapi bukan berarti aku tidak sepakat dengan mereka. Aku hanya perlu meluangkan sedikit waktu untuk berpikir, dan tentu saja berdoa, menyusun kembali rencana hidup agar aku tidak hanya bisa menjadi seorang pembelajar yang baik, tetapi juga bisa menjadi seorang pemberi manfaat atas ilmu yang dipelajari.

Dan…. insyaAllah jalan itu sudah ditunjukkan. Tinggal bersiap-siap untuk berusaha lebih keras lagi.^^.

Terima kasih, untuk mereka yang mengajarkanku untuk menjadi seorang pembelajar sejati. :)

Tentang dakwah (sekilas....)

Tantangan terbesar dari dakwah fardhiyah ternyata bukan orang-orang yang kita kenal. Beberapa justru orang terdekat yang ada di sekitar kita baik raga maupun jiwanya, bisa jadi keluarga, bisa jadi sahabat terdekat. Kemampuan mereka mengenal kita terkadang malah menjadi bumerang tersendiri. Tapi dakwah mengenal “perjuangan tanpa henti” bukan?

Ia membutuhkan kaca untuk bercermin. Bahwa yang dibutuhkan orang-orang ternyata bukanlah retorika, melainkan aksi nyata. Mereka lebih banyak melihat dan menyaksikan dibandingkan mendengarkan. Kita tidak hidup di dunia tanpa kaca. Semua orang bercermin. Jika bukan pada kaca, mungkin pada pribadi yang ada di hadapan mereka.


Tentang teguran


Bahkan menegur pun kita memerlukan keahlian. Kenapa? Karena tidak semua orang memahami bahwa teguran adalah bagian dari kasih sayang sesama manusia.


Setiap dari kita pasti sepakat. Jika menilai kedekatan antara rekan kerja, teman, sahabat, keluarga, semakin besarnilai kedekatannya maka akan semakin tidak enak terasa tegurannya, entah semakin keras, atau semakin dalam. Itulah mengapa, kita akan lebih mudah ‘pundung’ atau ‘menggerutu’ ketika orangtua  kita atau sahabat menegur kebodohan yang kita lakukan. Kabar buruknya, terkadang hal itu membuat hubungan menjadi tegang. Kabar baiknya, selama teguran itu tidak dilakukan di depan umum alias hanya melibatkan kedua belah pihak saja, itu berarti teguran yang terjadi adalah implementasi daru kasih sayang atau kepedulian. Dengan kata lain, hubungan yang menegang pun sifatnya hanya sementara.

Akan tetapi, ternyata banyak sekali orang yang tidak memahami hakekat ini. Emosi yang tidak stabil, ego ke’aku’an yangbegitu  yangbegitu tinggi menjadikanteguran itu sebagai bom perusak hubungan yangamat dahsyatr. Sehingga tidak sedikityang menjadikan momen untuk memperbaiki diri itu sebagai saat-saat untuk meningikan ego ke’aku’annya. Haha. Saya bicara seperti itu karena saya pernah berada di posisi itu.

Saya sangat suka sekali, kepada mereka-mereka yang bisa menegur dengan bijaksana. Tanpa melibatkan emosi, menggunakan diksi yang sesuai, tahu apa tujuan dari teguran tersebut. Lalu, kembali tersenyum seakan kesalahan itu tidak pernah terjadi. Namun, saya lebih kagum kepada mereka yang tetap tersenyum, berterima kasih, bahkan mengakui kebenaran di balik teguran itu dengan hati lapang. Lalu, memutuskan untuk merubahnya meski pun perlahan.
^^
karena manusia adalah ladangnya dosa dan khilaf
mari saling mengingatkan dalam kebaikan. :D

The word of "Inspiring"


Sesuatu itu adalah sebuah “pemberian” kita untuk orang lain.
Ia tidak bisa dibeli dengan uang, lebih berharga dari gadget termahal sekali pun.
Untuk bisa memberikannya pada orang lain, dibutuhkan kesabaran, keuletan, dan kegigihan lebih dari apa pun. Hal berharga itulah yang ketika diwariskan, dia lebih kekal dibandingkan kekayaan. Sesuatu itu bernama INSPIRASI . Yang didapatkan dari cita-cita, impian, serta perjuangan dengan bumbu bernama keikhlasan, kesabaran, dan pengorbanan.



INSPIRASI. Ini adalah kesimpulan yang saya dapatkan ketika memikirkan hal bernama “Masa Depan”. Begitu banyak pilihan ternyata. Akan tetapi, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, setiap pilihan itu memiliki konsekuensinya tersendiri. Pilihan terbanyak yang muncul dari rekan sejawat adalah mengambil dunia profesional dengan gaji yang selayaknya. Buat siapa pun itu, pilihan itu memang pilihan terbaik. Bagi orang-orang yang memang berencana berkarir di dunia profesional. Untuk mengambil pilihan itu, maka hal utama yang harus dikorbankan adalah menunda keinginan untuk melanjutkan studi sebagaiman yang tertulis dalam kertas impian.

Kebalikannya, ada juga yang menunda hidupnya menjadi kaya demi impiannya untuk melanjutkan studi. Ya… jalan yang ini juga sama tak mudahnya. Berkutat dengan dunia akademisi, menunda mimpi untuk memiliki gadget gadget dengan harga setinggi langit.

Atau, ada yang tidak memilih keduanya. Meninggalkan dunia profesional dengan gaji setinggi langit, ataupun menunda keinginan melanjutkan studi. Dunia sosial menjadi pilihan yang teramat luar biasa. Mencari kebebasan hati dengan membantu orang banyak. Bukannya tanpa upah, tapi memang bukan upah ataupun prestise yang diincarnya.

Apapun pilihan itu…….. yang saya dapatkan dari orang-orang yang menginspirasi adalah, jalani semuanya dengan penuh kesungguhan. Saat ini, kita mungkin masih tertatih dalam perjuangan yang panjang. Tidak seperti orang-orang lain, yang sudah memiliki hal-hal yang tidak kita miliki. Tapi.. siapa tahu mereka juga berpikir hal yang sama. Betapa irinya mereka dengan banyaknya senyum yang kita ukir pada hari ini. Ya, kita menginspirasi mereka, sebagaimana mereka menginspirasi kita. Tidak ada yang perlu disesali, karena setiap pilihan memiliki konsekuensinya. Suatu saat, kita dan mereka akan berada di jalan yang sama. Dan sama-sama merasakan indahnya berbagi inspirasi dengan orang banyak.

Teruslah menginspirasi, dengan jalan yang kau pilih. Apa pun jalannya. Selama yang kita jalani dipenuhi kesungguhan, cita-cita, perjuangan, keikhlasan, pengorbanan. Maka suatu saat ada hasil yang akan tertuai… hasil yang jauh lebih berharga dibandingkan kekayaan, ya… sebuah INSPIRASI.

Ditulis untuk orang-orang yang menginspirasi saya....... Terima kasih telah hadir dan memberi begitu banyak inspirasi. :)