Showing posts with label rekomendasi. Show all posts
Showing posts with label rekomendasi. Show all posts

Resensi Novel: Bumi





Well,

Sejauh saya kenal beberapa nama novelis Indonesia, seperti Dee, Asma Nadia, Kang Abik, Andrea Hirata, dll, Bang Tere adalah novelis yang sesuatu banget. Gak cuma produktifitasnya yang tinggi, kualitas tulisan yang bagus dari hari ke hari dan sarat akan makna, tapi baru kali ini saya menemukan novelis Indonesia, yang dengan gaya kepenulisan yang sama, mampu menghasilkan novel dengan banyak jenis genre.
Banyak yang sepakat, Bang Tere TOP banget untuk genre roman. Tengoklah Sunset Bersama Rosi, Aku Kau dan Angpau Merah, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Tapi, novel dengan genre keluarga pun, sangat sangat bisa diacungkan jempol. Tentunya sudah pernah membaca Ayahku (bukan) Pembohong, Hafalan Sholat Delisa.

Saya lalu tambah terdecak kagum oleh bang Tere saat membaca genre apa ya namanya? Entah action, atau politik. Apapun itu, Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk mungkin saya rekomendasikan sebagai the must read novels ever. Kisah mengenai konsultan jenius ini, meski gak sedahsyat novelis sekelas Inferno, tapi menurut saya sangat berkelas.

Dan... gak berhenti di dua novel tadi, lagi lagi Bang Tere mengejutkan pembaca novelnya dengan menerbitkan serial "BUMI". Awal membaca summary nya, saya berpikir ini mungkin seri keluarga lagi, sama seperti seri anak anak Emak. Atau mungkin kisah psikologi sebagaimana novel novel lain.
Tapi saya benar benar kaget, saat mulai membaca 3 Bab novel ini. 

Dear Bang Tere, are you kidding us? Saya bener bener gak nyangka, si penulis novel ini adalah orang yang sama dengan yang menulis novel seromantis Sunset Bersama Rosie, atau penulis yang sama dengan novel semenyentuh Hafalan Shalat Delisa.

Well... believe it or not. Novel ini memang karya besarnya seorang Tereliye. Novel dengan genre fiksi yang penuh imajinasi sebagaimana kita pernah membaca Harry Potter, Eragon, Divergent. 

Berkisah mengenai Ra, anak berumur 15 tahun yang memiliki kemampuan bisa menghilang, dengan Seli dan Ali, teman sekelasnya. Mereka terlibat petualangan seru di "dunia lain", di tempat yang sama bernama Bumi. Ada 4 klan yang hidup di Bumi secara terpisah, lalu ada masa lalu, petarungan, misteri. Yah... baca sendiri lah.. biar seru. haha

Do I like it?
Yes, I do.. as always. Memang sih, jangan berharap akan menemui kisah semenegangkan Harry Potter, atau bahkan Twilight. Tapi, untuk saya yang merindu pada masa masa kecil yang penuh imajinasi. Novel ini, benar benar mampu membuat saya tersenyum selama membaca.

Selamat Bang Tere. Sepertinya Anda memang terlahir untuk menulis...
:D

IBU (Teater Koma) -- Sebuah Ulasan

Sebenarnya ini bukan resume yang terbaik. Selain sudah pernah terhapus karena sebuah kesalahan bodoh, masih banyak para blogger penikmat seni yang telah mengulas lebih komprehensif. Bahkan, karena keterbatasan gadget, saya hanya bisa mengambil foto-foto dari google saja.. hehe.

***

Well... ini mungkin memang bukan pertunjukan teater pertama yang saya hadiri. Hmm.. tapi bisa dibilang ini adalah pertunjukkan teater berkelas pertama bagi saya. Teater Koma sendiri merupakan salah satu teater ternama yang sudah menggarap beberapa karya para dramawan dunia antara lain William Shakespeare, Georg Buchner, Moliere, Aristophanes, Arthur Miller, George Orwel, Alfred Jarre, Friedrich Durrenmatt, Evald  Flisar, dan Bertolt Brech. Siapa mereka? Silahkan googling ya. Di antara semua karya yang dipentaskan Teater Koma tersebut saya hanya tahu Romeo Yuliet dari William Shakespeare. Haha.

Pementasan yang saya dan keempat teman AADT hadiri 14 November lalu itu berjudul IBU, disadur dari naskah BERTOLT BRECHT, seorang dramawan sekaligus penyair legendaris asal Jerman dengan judul asli Mutter Courage und Ihre Kinder (Mother Courage and Her Children). Disutradarai oleh N. RIANTIARNO, produksi ke 131 Teater Koma ini digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.

Sosok IBU dan keretanya yang menggantung langsung menyambut kami di pintu masuk. Beberapa menit keterlambatan tidak mengurangi ke "excited"an saya akan pertunjukan ini. Meski harus mengeluarkan uang yang lumayan (setara dengan dua tiket XXI), tapi tidak mengapa. Bagi saya... pertunjukan teater selalu keren dan menarik. 

 
 photo by me

Saya langsung dibuat kagum oleh sosok Ibu Brani yang diperankan oleh Sari Madjid. Permainan karakter yang benar-benar hebat. Begitu kuat dan stabil. Seakan terperangkap pada alur cerita bersama sosok Ibu Brani yang tegas, penuh keberanian, dan gigih. Ibu Brani beserta ketiga anaknya- si sulung Elip, Fejos si Keju Swiss, dan si bungsu bisu Katrin- hidup di tengah peperangan antara dua resimen yang memperebutkan kekuasaan, yaitu Matahari Hitam dan Matahari Putih. Prinsip Ibu Brani, dia tidak mau terlibat tapi harus memperoleh keuntungan dari peperangan. Sedikitnya jumlah pedagang kelontong menyebabkan Ibu dan ketiga anaknya bisa leluasa berjualan dengan kereta warungnya.

 Ibu Brani dan ketiga anaknya (source: foto.ureport.news.viva.co.id)

 Ibu Brani (source yudasmoro.net)


Sayang, malang tak dapat ditolak. Meski sudah dilarang keras, secara berturut turut, Elip dan Fejos pun masuk menjadi tentara Matahari Hitam. Elip masuk terlebih dahulu sebagai prajurit, sementara Fejos masuk setelahnya sebagai Juru Bayar. Tinggallah Katrin si bisu yang menemani Ibu Brani berjualan. Ibu selalu berjanji kepada Katrin untuk mencarikan suami saat perang telah berakhir. Dia tak mau nasib putrinya sama seperti Ipit Poter (di naskah asli bernama Yvette Pottier), wanita jalang langganan warung Ibu Brani. Lalu, dua pria masuk ke dalam kehidupan ibu Brani. Kaplan, pendeta Matahari Hitam yang menyamar serta Domba si Koki (atau Piter si Pipa).

 Ipit Poter (source : nimadesriandani.wordpress.com)
 
 Ibu (tengah) di antara dua pria, Piter si Pipa (kiri) dan Kaplan si pendeta (kanan) (sumber : www.adjisubela.com)


Elip si sulung menikmati masa masanya menjadi prajurit. Kecerdasan yang selalu dibanggakan oleh Ibu Brani itu menjadikannya orang yang dipercaya oleh para jenderal. Tapi bukan peperanganlah namanya, jika seorang prajurit jauh dari bedil yang menembak. Sementara Fejos, meski kurang cerdas, tetapi kejujuran yang selalu dibanggakan Ibu juga membawanya menjadi orang kepercayaan.

 Elip (kanan), Jenderal (tengah), pendeta (kiri)  (sumber : nimadesriandani.wordpress.com)

Katrin Hupla namanya. Ia bisu. Tapi, di antara semua peran, dia adalah favorit saya. Padahal saat di awal, saya berpikir... "ih...garing amat dapat peran jadi orang bisu. Gak ada dialog yang harus dihapal". Coba bandingkan saja dengan sosok Ibu yang harus menghapalkan berbaris baris bahkan berlembar lembar dialog panjang. Tapi.... bisa jadi justru peran inilah salah satu yang tersulit. Diperankan oleh Ina Kaka, sosok Katrin adalah yang paling menarik perhatian, dan sekaligus paling banyak mengundang tawa. Keluguan, kepolosan, dan spontanitas tanpa katanya sukses mencuri hati penonton. Salah satu adegan yang paling saya ingat adalah saat Katrin begitu stress karena Fejos tak juga mengerti apa yang ia coba jelaskan. Seluruh anggota tubuh yang bergerak menggantikan bahasa kata yang tidak dimilikinya. Kalimat Fejos "hanya Ibu yang mengerti kamu" dan ekspresi stress Katrin langsung mengundang tawa kami.

 Katrin (kiri) dan Fejos (kanan) saat Katrin sedang berusaha menjelaskan keadaan bahaya pada Fejos. (sumber : nimadesriandani.wordpress.com)

Banyak adegan yang mengundang tawa bukan berarti ini adalah kisah komedi. Setelah Katrin gagal menjelaskan kepada Fejos tentang kedatangan prajurit musuh ke tempat mereka saat dia pergi, Fejos tetap meneruskan rencananya untuk membuang peti uang ke sungai. Dan tertangkaplah ia. Ibu Brani pun pada akhirnya melakukan tawar menawar untuk menebus anaknya melalui Ipit Poter. Tapi..waktu tawar menawar yang terlalu lama membuat semuanya terlambat. Fejos pun terbunuh dengan 11 tembakan di tubuhnya. Lebih menyedihkan lagi.... Ibu Brani terpaksa tidak mengakui jenazah anaknya saat prajurit itu datang membawa tubuh tergulai yang tidak bernyawa itu pada mereka. Adegan ini adalah adegan yang terbaik menurut saya. Kebisuan Ibu Brani, tangis tanpa kata dari Katrin... cukup menggambarkan suasana yang lebih dari sekedar kesedihan. Penyesalan, rasa kehilangan yang besar, ketidakberdayaan, terasa begitu nyata oleh akting yang minim kata saat itu. 

 Katrin dan Ibu Brani saat mendengar kematian Fejos. Oh maan.. saya paling suka adegan ini. (sumber : cabiklunik.blogspot.com)

Singkat cerita, perdamaian pun tiba. Perdamaian yang dinanti sejak lama. Saat di mana Katrin sudah dijanjikan Ibu untuk dicarikan seorang suami. Tapi ternyata perdamaian tak lagi indah. Katrin mendapatkan cacat di mukanya setelah sebelumnya diserang oleh prajurit saat perjalanan ke pasar. Ia tak lagi mau bertemu siapa pun. Selain itu, bagi Ibu Brani, perdamaian berarti kebangkrutan karena kereta warungnya tak lagi ramai. Saat semua orang berbahagia karena perang, Ibu dan Katrin justru tenggelam dalam kepasrahan nasib.

Elip yang ditunggu tunggu pun datang. Tapi saat itu, Ibu tengah ke pasar untuk menjual kembali barang dagangannya. Tapi Elip datang tidak sebagai pria bebas. Ia datang bersama dua polisi. Kebiasaannya membantai petani saat jaman perang dulu, membawanya ke dalam posisi sulit. Belum sempat bertemu ibunya, ia pun pergi bersama kedua polisi tersebut.......dan tidak pernah kembali.

Perdamaian setelahnya tinggallah nama. Perang berkecamuk lagi. Setelah ditinggalkan oleh Kaplan si pendeta, kini giliran Piter yang menemani Katrin dan Ibu. Kehidupan mereka semakin sulit. Rakyat semakin miskin dan tidak mampu membeli. Sampai suatu ketika, Piter mengajak Ibu untuk hidup bersamanya mengurus bisnis penginapan. Tapi sayang, pria itu tidak ingin Katrin yang bisu dan cacat turut serta. Dan karena itu, Ibu Brani meninggalkan Piter. Tinggallah mereka berdua saja yang menarik gerobak...

Kisah ini pun mencapai akhirnya. Saat Katrin yang lugu, polos, dan naif mengeluarkan keberaniannya membunyikan genderang untuk meminta bantuan. Upayanya menuai hasil... tapi sayang, itu adalah keberanian pertama dan terakhir yang dikeluarkannya. Katrin pun tertidur untuk selamanya akibat luka tembak dari prajurit Matahari Putih.

kematian Katrin (source : www.jakpost.travel)

Tidur,tidurlah anakku sayang
Tiada lagi yang perlu kau risaukan
Satu anakku mati di tanah seberang
Satu lagi entah di mana sekarang
-senandung sang Ibu sambil mengusap jenazah putrinya-

Ibu Brani pun tetap melangkah dalam perang yang masih berkecamuk, menarik keretanya, sebatang kara.....
 
-the end-

***

Ini bukan kisah tentang hubungan romantis antara anak dan orangtua. Tidak juga bercerita tentang kisah mengejar impian dan cita-cita. Bagi saya kisah ini seakan mengatakan bahwa bertahan hidup bukanlah perkara yang mudah. Kita akan selalu dihadapkan dalam pilihan. Seperti Ibu yang memilih kereta warung untuk berjualan demi mempertahankan hidup. Seluruh dunia boleh mengutuk peperangan. Tapi baginya, perang adalah ladang uang. Tapi.... peperangan tetaplah peperangan, tak pernah sedikitpun membawa kebaikan. Baik bagi pihak yang menang maupun bagi pihak yang kalah, peperangan tetap merupakan nestapa untuk rakyatnya. Bahkan bagi orang yang mengambil untung dari peperangan seperti Ibu Brani, tetap saja peperangan merenggut harta yang paling berharga, anak-anaknya.

Selebihnya ini adalah kisah tentang kondisi peperangan, kebusukan penguasa, korupsi, penyuapan, dan hal-hal sejenis bernama 'ketamakan' yang hidup bersama perang.

It was totally awesome...

Makasih buat Teguh, Nita, Offi, Lisdha, dan Arga (meski gak jadi nonton).
Resume yang "apalah ini" saya tulis secara khusus untuk AADT. :)

Pesona Karimun Jawa

Aku tidak akan pernah mengira akan berada di tempat ini. Setelah sekian lama hidup di tengah kebisingan kota, kemacetan warna-warni angkutan umum, kepenatan yang ditimbulkan oleh polusi yang merajalela, setidaknya menghirup udara segar di pulau sebrang membuat seluruh sel-sel dalam tubuhku menemukan semangatnya kembali. Meski harus menghitam karena efek sunburn yang begitu kuat, tapi semua pesona yang telah kudapatkan tak akan pernah menorehkan sedikit penyesalan.

Ini adalah kisahku di sebuah pulau yang baru setahun lamanya booming  sebagai salah satu tepat wisata yang paling diincar di Indonesia. Membutuhkan waktu enam jam dengan kapal ferry untuk mencapai darmaga tempat yang termasuk Kabupaten Jepara, Jawa Tengah jika berangkat dari pelabuhan tempat kelahiran R.A Kartini itu.

Saran keberangkatan dengan kapal ferry: Yakinkan bahwa Anda bisa mendapatkan tiket kelas VIP yang hanya berbeda sekian puluh ribu itu dengan tiket ekonomi jika Anda ingin merasa baik-baik saja selama enam jam perjalanan dengan cuaca yang sangat bagus. tapi jika tidak bisa mendapatkannya, datanglah lebih awal untuk mendapatkan posisi duduk yang menguntungkan. Anda juga bisa menikmati perjalanan cepat lewat jalur semarang atau bahkan dengan jalur yang super cepat yaitu lewat transportasi udara. Pada intinya tempat yang saya maksud dan telah membuat saya jatuh cinta karena keindahannya adalah terjangkau oleh apa pun status Anda.

Nama tempat itu adalah Karimunjawa yang merupakan kepulauan di Laut Jawa Dengan luas daratan ±1.500 hektar dan perairan ±110.000 hektar


Berdasarkan legenda yang beredar di kepulauan, Pulau Karimunjawa ditemukan oleh Sunan Muria. Legenda itu berkisah tentang Sunan Muria yang prihatin atas kenakalan putranya, Amir Hasan. Dengan maksud mendidik, Sunan Muria kemudian memerintahkan putranya untuk pergi ke sebuah pulau yang nampak "kremun-kremun" (kabur) dari puncak Gunung Muria agar si anak dapat memperdalam dan mengembangkan ilmu agamanya. (mungkin ini asal-usul nama ferry yang membawa saya dan ke teman-teman ke tempat itu untuk yang pertama kalinya). Karena tampak "kremun-kremun" atau samar-samar maka dinamakanlah pulau tersebut Pulau Karimun. Rasanya cocok dengan nama ini karena perjalanan yang cukup lama untuk tiba di sana.

Sejak tanggal 15 Maret 2001, Karimunjawa ditetapkan oleh pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional. dan sudah kira-kira setahun tempat ini menjadi incaran parawisata oleh wisatawan asing dan domestik. Karimunjawa adalah rumah bagi terumbu karang, hutan bakau, hutan pantai, serta hampir 400 spesies fauna laut, di antaranya 242 jenis ikan hias. Beberapa fauna langka yang berhabitat disini adalah elang laut dada putih, penyu sisik, dan penyu hijau.

Pesona bawah laut merupakan pesona utama yang ditawarkan oleh kepulauan ini. Kepulauan Karimunjawa menjadi surga dari para penyelam (diver). Anda dapat melakukan berbagai kegiatan di dalam jernihnya air. Berenang, menyelam (diving), atau snorkeling akan terasa menyenangkan. Bahkan, saat berada di salah satu pulau yang saya lupa namanya, terumbu karang yang sangat indah dapat  terlihat jelas di atas permukaan laut.

nb: foto ini saya ambil sendiri dari atas permukaan

 

Ombak di Karimunjawa tergolong rendah dan jinak, dibatasi oleh pantai yang kebanyakan adalah pantai pasir putih halus. Yah..mungkin ini salah satu bedanya wisata karimunjawa dengan wisata pulau dewata. Tempat  ini adalah surga buat para penyelam tapi bukan tempat yang cocok buat peselancar. Akan tetapi, Pasir putih yang membentang di semenanjung pantai bersih nan indah merupakan daya tarik yang luar biasa dan tak akan pernah terlupakan.

 


Scenery di gambar samping adalah salah satu sudut pulau cilik. konon di tempat ini cuma di huni satu orang nenek-nenek dengan sebuah gubuk. Bisa dilihat bahwa ada tiga gradasi warna yang dapat kita saksikan dari pulau ini, yaitu warna putih dari pasir pantai yang bersih, warna biru muda dari tepi pantai dan warna biru tua yang menggambarkan laut yang agak dalam. Menuju pulau-pulau di sekitar pulau utama hanya menggunakan perahu nelayan, dan percayalah, rasanya menyenangkan. Bahkan ada sebuah perjalanan saat lautan cukup beromba k. Saat itu, duduk di bagian terdepan kapal merupakan pilihan yang tepat karena kita dapat merasakan ayunan kapal yang naik turun seraya bermain di Kora-kora yang terdapat di dufan, dengan tambahan cipratan air. benar-benar memacu adrenalin."Dufan Gratiiiis" begitulah salah satu seruan teman-tean yang merasakan peristiwa berayun di atas ombak di tengah lautan yang saya maksud.

Beberapa penangkaran, seperti penangkaran hiu juga dijadikan obyek wisata yang ditawarkan kepulauan ini. salah satunya terdapat di pulau menjangan (saya lupa menjangan yang mana). di tempat itu, teman-teman saya sedikit mengusik kediaman para hiu kecil dengan berenang di tempat yang sama dengan mereka. Mereka pun sempat mengambilkan bintang laut yang besar untuk saya dan teman-teman yang lain.

Bicara tentang laut, bicara tentang pantai. Kurang rasanya jika tidak menyebut-nyebut tentang salah satu panorama alam yang identik tentang romantisme. Yup...sunset merupakan incaran para wisatawan yang cukup ditunggu. Untuk para penulis, sepertinya tepat ini sangat cocok sebagai pembangun inspirasi novel-novel roman yang segar.


nb : semua ini saya foto sendiri lho...menyenangkan ternyata mengambil pesona seperti ini dengan tangan sendiri

Di sisi yang bertolak  belakang dengan pelabuhan, adalah sudut pulau karimun yang dapat menyuguhkan pesona sunrise. Sayangnya, waktu kami ke sana, awan memenuhi garis cakrawala yang terbentang sehingga hanya dapat melihat kemilau sinar yang indah. Namun, sesuai dengan  namanya, Pantai Nirwana, tempat ini menyuguhkan panorama alam yang tak kalah indah di bandingkan sudut pulau lainnya.


Pernah merasakan sholat di atas pantai pasir putih yang bersih dengan angin yang menyejukkan hati. Itulah yang kami lakukan di tempat bernama Tanjung Gelam. Saya merasakan suasana yang syahdu karena kita di hadapkan dengan sebuah penciptaan yang luar biasa saat berhadapan dengan Sang Pencipta. Mohon maaf karena gabarnya belum bisa ditampilkan. Tapi Tanjung Gelam erupakan tempat denga panorama pantai yang juga luar biasa. terdapat banyak karang besar namun pantai tetap landai. dari tempat ini juga dapat disaksikan secara langsung peristiwa tenggelamnya sang raja siang di ufuk barat.


Gosong bukan merupakan sebuah pulau. Tapi krena 'bukan pulau' itulah yang menjadikan tempat ini menarik. rasanya dari jauh, Anda akan melihat sesorang berjalan di atas lau. Tapi sebenarnya orang ini berjalan di atas dataran Gosong yang terendam oleh laut. Tempat ini terlihat seperti tumpukan pasir di tengah lautan. Benar-benar unik dan saya tak akan pernah melupakan tempat yang indah itu. Satu lagi pesona wisata karimunjawa yang tidak dapat ditemukan di tempat lain (mungkin).

Tidak hanya menemukan pemandangan yang benar-benar baru. Silahkan secarhing di google atau di mana pun tentang hewan (benerean hewan lho) yang satu ini. Tapi saya pun sulit menemukannya. Namanya adalah batu bintang (yah..orang sana biasa menyebutnya seperti itu). Bagi yang tahu nama latinnya, pasti akan sangat menolong sekali. Tapi tidak berbeda dengan terumbu karang lainnya, hewan ini adalah hewan yang hidup yang saat ia mati akan mengeras seperti karang. Cuma ingat satu hal, hewan-hewan yang saya sebutkan kecuali cumi-cumi, semua masuk ke dalam Fylum Echinodermata. Dan bulu  babi yang saya lihat di sana bukan hanya yang berwarna hitam lho. Sewaktu lagi sholat, di atas sebuah rumah panggung, terlihat pesona hewan-hean tersebut saat saya sedang sujud. Subhanallah. Benar-benar indah.


Gambar pertama adalah batu bintang yang masih bernyawa. Gambar kedua adalah batu bintang yang sudah mati dan gambar keiga adalah batu bintang dewasa yang sudah mati. Batu bintang dan hewan seperti terumbu karang itu bernyawa, makanya tidak boleh disakiti. Selamatkan terumbu karang!!! Saat kami snorkling, guide kami pun dengan sangat mudah menunjukkan bulu babi yang besar dengan tangan kosong (hati-hati dengan hwan ini, meskipun bisa dimakan dan katanya enak, tapi racunnya cukup menyakitkan jika tertusuk), menunjukkan kepada kami sesuatu yang dinamakan bulu ayam (gambarnya tidak sempat diambil), dan menunjukkan pula cumi-cumi yang cukup besar. Rasanya menyenangkan. Satu hal yang kami ketahui adalah, Don't Take anything from Karimunjawa except Photos!! Jadi, semua hal yang ditangkap, harap dikembalikan ke tempatnya setelah puas berfoto dengannya. ^^

Begitulah perjalanan saya dan teman-teman Food Scientist and Technologist angkatan 44 akhir agustus lalu. Benar-benar tidak terlupakan. Ada satu lagi yang membuat saya terdecak kagum. Kepulangan kami dengan Kamp. Muria di antar sejenak oleh seekor lumba-lumba cantik berwarna kelabu. (Sebelumnya teman saya juga sudah meliht beberapa saat perjalanan menuju kepulauan, bukah hanya lumba-lumba. tapi juga hiu katanya!!). Saya sering sekali melihat lumba-lumba beraksi di Ancol, tapi melihat mamalia air lucu yang jinak terhadap manusia itu berenang dan melompat di atas laut biru indah dengan bebasnya, rasanya.......benar-benar menyenangkan. Sejak hari itu, saya jadi penggemar lumba-lumba yang bebas di lautan yang luas.

nb : karena untuk bisa memotret hewan ini sehingga seperti ini adalah pekerjaan seorang profesional, maka saya berbaik hati untuk tidak melakukannya dan ini adalah satu-satunya foto yang saya download dari internet (haha. memang saya yang tidak bisa melakukannya kok....). Tapi, ini benar-benar sudut pandang, posisi, dan jenis lumba-lumba yang benar-benar saya lihat saat itu. Indah dan cantik.....

Anda suka laut dan ingin melakukan perjalanan bahari yang tidak biasa?
Rindu bermain dengan pasir pantai yang putih?
Ingin menyaksikan langsung pesona bawah laut yang benar-benar menakjubkan?
Ingin menemukan sesuatu yang benar-benar baru, nyata, dan hidup?

Saya merekomendasikan tempat ini bagi Anda yang mengaku suka traveling...

Special Thanks : Panitia Fieldtrip ITP 44, teman-teman ITP 44, dan Duta Karimun

nb: mohon maaf jika ada salah kata dan kekurangan informasi maupun kesalahan. Salam dunia pangan!!!

Tempat ternyaman

Aku suka sekali tempat ini.
pemanasan global yg smakin terasa di Kabupaten Bogor tidak mengurangi sama sekali kesejukannya.

Lantai tiga al hurriyah.

Dari tempat ini, sering kali terdengar kicau burung, dan suara angin. Seakan2 tidak sedang hidup d kota seribu angkot yang sesak.
Penat dan lelah akibat padatnya aktifitas akademik dan kelembagaan luntur seketika tatkala merasakan sujud yg teduh di atas keramik coklat yg berkilau bagai kaca (good job buat yg rajin ngebersihin.hehe).

Di berbagai sudut langit2, porselen bertuliskan lafadz ALLAH seakan2 menyinari setiap doa2 yg terlantunkan. Kubah dari bangunan ini bukanlah tercipta dari emas,tapi aku bisa rasakan kemegahan cahaya islam di dalamnya. Permadani mewah juga tidak menghiasi lantai tempt ini,tapi aku tahu persis bahwa siapa pun bisa terlelap nyenyak krn kenyamanan tmpt ini.

Ha,ceritaku tidak selesai sampai sini. Kuperkenalkan tempat ini, lantai tiga al huriyah. Tempat yg paling kurindukan saat ramadhan tiba. Kalau saja tdak dibatasi jam malam, rasanya ingin sekali tenggelam dalam syahdu di setiap malam ramadhan.

Aku bukan aktivis masjid seperti SMA dulu. Tapi, aku bisa kapan pun datang ke tempat ini. Mengembalikan energi2 positif yang sering kali hilang oleh dinamika kampus yang semakin rumit.

Hal yang ingin kuberitahukan kepada kalian adalah.....
ketika Bogor tidak memberimu ruang untuk bernapas tanpa polusi dan sengatan panas,
ketika IPB tidak memberimu ruang untuk merefreshkan diri dari beban studi yang semakin berat,
ketika aktifitas kampus tidak lagi memberimu ruang untuk melemaskan otot2 yg semakin tegang oleh amanah yang bertubi-tubi,
ketika semua temanmu terlalu sibuk untuk memberimu ruang bercerita, datanglah ke tempat ini dan percayakan padanya untuk membantumu seperti terlahir kembali.

Kok bisa? Jelas saja, tempat ini sudah menjadi saksi nyata dan menjadi tabungan air mata taubat dan perasaan ikhlas dari ribuan doa dan sujud dari hamba ALLAH. Di tempat ini, tertampung semangat2 dakwah dan jihad yang tak pernah mati. Di tempat ini pula, kalimatullah tak pernah sepi untuk terlantunkan.
Dan dari tempat ini,kerinduan kita akan masjidil haram akan semakin bertambah. Sungguh, tidak ada yang lebih baik dari rumah ALLAH untuk menyelamatkan diri dari tumpukan energi negatif dari kita yang lemah ini.

Cintailah masjid, ramaikanlah ia. Niscaya dia pun akan selalu tersenyum padamu