Dear Mahameru



 Dear Mahameru




Dear Mahameru,

Apa kabar kamu? Hari ini, sudah berapa pendaki yang menyapa dan menatapmu dengan begitu takjub setelah pendakian panjang yang luar biasa di atas padang pasir vertikal? Aku bisa membayangkan aura bahagia mereka, saat berpijak padamu, menatap lautan awan yang megah, kadang terlupa bahwa di kejauhan, awan putih mematikan bisa datang kapan saja. Aku juga bisa membayangkan, kebanggaan dan rasa syukur yang luar biasa di hati dan mata mereka. Bukan, bukan karena sebuah prestasi menjangkau puncak tertinggi pulau ini, melainkan karena sebuah prestasi luar biasa, karena telah mengalahkan diri sendiri, melewati batas kemampuan.

Dear Mahameru, 

Awalnya, aku tak mau bertemu denganmu lagi. Terlalu letih kataku. Tapi lalu, tiba-tiba ada rindu terselip pada sebuah apel di malam yang dingin saat pendakian di atas lerengmu. Ada rindu yang menyelimuti pada langit biru yang memukau. Ada rindu, pada kawan kawanmu, pada Ranu Kumbolo yang anggun, oro-oro ombo yang misterius, dan permadani hitam bertabur bintang di malam selepas lelah yang panjang.

Dear Mahameru,

Dalam rindu ini, bolehkah aku menyampaikan sebuah cerita? Tentang sebuah perjalanan yang indah, hingga akhirnya kita bertemu.


Secantik senja di penghujung November
Seperti itulah rasanya kita saat memulai kebersamaan di atas ketinggian
Kita dan pelangi selepas hujan
Di Bukit savana hijau
Berlari, melompat, terjatuh, lalu tertawa


Ya Dear, perasaan itu teramat cantik, sama cantiknya saat akhir November lalu, senja Jakarta yang biasanya muram, berubah menjadi mengagumkan dengan rona merahnya yang memukau. Saat ketika Desember tiba, aku dipertemukan dengan orang-orang ini. Mereka ramah, seramah pelangi yang muncul selepas hujan di bukit savanna hijau, tempat kami memulai petualangan itu. Meski dingin menusuk di malam hari, tapi keesokan paginya, kami melangkah dengan ceria, hanya ada tawa.


Kita yang semenjak lelah menjadi kerinduan,
Memutuskan untuk merajut ribuan langkah lagi dan lagi


Semenjak hari itu, di sebuah ketinggian yang layak dirindukan, aku, mereka, dan kisah mengenai perjalanan satu persatu mulai terajut. Bukit savana hijau, ladang bunga abadi yang permai, batu karang cantik di pantai selatan, surya kencana nan lapang, lembah misterius mandalawangi, bukit bintang tersembunyi, hingga akhirnya kamu…. Puncak para dewa.


Kalau boleh meminta
Aku ingin tetap bersama
Menatap senja di garis cakrawala
Menyapa ribuan bintang di tengah malam sunyi
Atau menyapa rona merah matahari pagi malu-malu di balik lautan awan

Tapi kita adalah kita
Yang hanya bertemu dalam rangkaian perjalanan
Akan tetap menjadi kita saat jarak dan jejak menjadi saksi tentang pastinya sebuah pergi


Dear Mahameru,

Bolehkah aku meminta untuk tetap melanjutkan perjalanan ini? 


-Miezfy-
Tribute to JOURNEY

Project Jika "Jika Istrimu seorang Pecinta Alam"

Well... akhirnya tiba waktu saya untuk mempublish tulisan ini. Hehe. Sebelumnya tulisan ini hanya muncul sekali dan satu satunya di kurniawangunadi.tumblr.com dalam rangka project Jika nya dia. Saya hanya posting di sana, jadi jika menemukan tulisan ini beredar di mana mana, bisa dipastikan itu bukan seizin saya. Kenapa baru sekarang? Karena kalau saya posting kemarin, dikira galau, atau kasih kode, atau apapun yang sejenis itu. Padahal tulisan ini murni khayalan. Kalau sekarang, insyaAllah gak bakal dikira galau atau ngasih kode lagi. wkwk. Dalam postingan kali ini, akan ada beberapa hal yang saya edit. Check this out yaa...


Jika Istrimu Seorang Pecinta Alam





Dear my future husband,

Respon apa yang pertama kau beri saat kamu membaca cv, dan melihat “naik gunung”, sebagai aktivitas favorit calon istrimu ini? Mungkin kamu akan terkejut, mungkin ‘ilfill’, atau tidak terlalu peduli. Entah apa pun responmu itu, toh pada akhirnya kamu menerimaku sebagai partner hidupmu.

Sayang,
Jika kamu bertanya padaku tentang destinasi holiday kita setelah menikah, mungkin aku akan meminta Rinjani, bukan Bali. Aku lebih memilih tenda kapasitas dua yang kokoh dibandingkan hotel berbintang yang megah. Setelah menikmati puncak bersama, barulah kita berkelana di Senggani, tiga Gili, Pantai Kuta, dan desa adat di Lombok. Jika kamu ingin ke Eropa, aku pasti akan meminta Mont Blank sebagai salah satu destinasi kita. Ah..lupakan soal Eropa dan benua lain, karena aku masih jatuh cinta dengan pegunungan di negeri ini. Kamu tahu Semeru sayang? Pastilah, nama gunung ini melejat pesat semenjak sebuah film mengangkatnya dengan begitu sukses. Jika kamu belum pernah ke sana, kamu harus. Di bulan Juni yang cerah, padang oro-oro ombo menyapa di balik tanjakan cinta, dengan hamparan lavender Verbena brasiliensis ungu yang menggoda mata. Tidak kalah romantis dibandingkan Monet’s Garden, Prancis. Tidak sampai Mahameru juga tidak apa, karena menjelajahi Semeru bersamamu lebih kuinginkan dibandingkan menegakkan merah putih di puncak tertinggi Pulau Jawa. 

Tapi ini bukan tentang perjalananku, ini adalah tentang perjalanan kita. Jika kamu tidak ingin mendaki gunung bersamaku tidak mengapa, kita masih bisa meyusuri pantai dan menyapa senja bersama. Kalau kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, sehingga kita tidak sempat bercengkarama dengan alam, itu juga tidak mengapa. Aku akan membawakan pagi untukmu dalam secangkir kopi. Jika kamu tidak suka kopi tidak mengapa, akan kulukiskan purnama dalam segelas susu. Jika kamu tidak menyukai susu, itu juga tidak mengapa, aku akan membawa kehangatan mentari dalam setiap masakan yang kau sukai.

Tapi my dear, aku akan tetap menyukai bintang yang bertabur bintang tanpa sekat. Aku akan tetap menyukai pelangi di padang savana setelah hujan yang mengguyur semalaman. Aku akan tetap menyukai mata air, pegunungan, embun, edelweiss, daisy. Meskipun ketika sudah bersamamu, aku tidak akan sempat bermain bersama mereka. Tidak mengapa. Tapi, anak-anak kita nanti harus dibesarkan oleh alam dear, bukan oleh kota besar. Anak laki-laki kita harus bisa memanjat pohon, dan bermain di sawah. Anak perempuan kita harus pandai berenang. 

Percayalah, alam akan membentuk mereka menjadi pribadi yang mandiri dan berjiwa besar. Saat mereka bisa berbuat baik pada burung perkutut yang terluka, maka mereka akan dengan sangat mudah mencintai sesama. Saat mereka tanpa rasa takut, berani menyapa kuda, bahkan menungganginya, maka mereka juga tak akan pernah takut untuk jatuh. Kau tahu kenapa Sayang? Karena Allah berfirman bahwa Dia menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, amanah yang bahkan semesta ini tak sanggup memikulnya. Maka biarkan anak-anak kita menjalankan amanah itu. Begitu pun kita.

My Dear, aku tidak memiliki keanggunan seorang Ratu, kecantikan seorang putri, atau kedudukan setinggi anak dari orang terpandang. Aku hanyalah aku, seseorang yang mencintai alam. Aku tidak bisa bermain biola, tapi aku bisa menyelam berenang. Aku tidak pandai berdansa, tapi kupikir kita tak butuh itu kan? Aku suka memasak, tapi aku tak bisa memasak makanan Eropa untukmu. Aku benar-benar seorang gadis biasa. Kesederhanaan adalah bagian dari hidupku. Bahkan meski aku lahir dan dibesarkan di ibukota, aku tetap mencintai pedesaan. Kau tahu kenapa? Karena kesederhanaan itu mengajarkan banyak hal. Dan hal itulah yang kusukai dari suamiku. Kamu yang tetap sederhana, meskipun mungkin kamu adalah orang yang bisa membeli dunia. Kesederhanaan pula yang akan tetap membuatku berada di sampingmu, bahkan di masa-masa terpurukmu sekalipun. 

Nah sayang, bagaimana jika kamu juga sama sepertiku? Sama-sama menyukai alam? Kamu pasti bisa menerkanya, bahwa perjalanan menua bersama kita, akan dipenuhi oleh serangkaian petualangan yang tak terlupakan. 

Miezfy
Menara Bidakara 2
1 Februari 2014

Secantik Senja



Secantik senja di penghujung November

Seperti itulah rasanya kita, saat memulai kebersamaan di atas ketinggian
Memudarkan sepi, memecah teka teki
Kita dan pelangi selepas hujan
di bukit savana hijau
Berlari, melompat, terjatuh, lalu tertawa

Kita kawan....
yang semenjak hari ketika lelah menjadi kerinduan, memutuskan untuk tetap merajut ribuan langkah lagi dan lagi

Kalau boleh meminta
Aku ingin tetap bersama......
Menyambut petang di garis cakrawala
Menyapa ribuan bintang di tengah malam sunyi
Atau menanti rona merah matahari pagi malu malu di balik lautan awan...

Aku masih ingin menyenandungkan puluhan cerita
Tentang kesederhanaan, impian, persahabatan

Sebagaimana ukiran tawa pada sore basah di padang bunga abadi.. 
atau canda yang terangkai sempurna dalam perjalanan menuju pantai batu karang yang megah

Sesekali prasangka menghampiri dan kita terjebak dalam diam

Terkadang salah tangkap memicu pecah
tapi lalu kamu tersenyum dan kita mendapatkan kembali suka cita

Kita menikmati percakapan
seakan belasan tahun saling mengenal

Kita bahagia....
tak lagi mempermasalahkan luka
Hanya ada kita dan matahari yang menemani di setiap langkah

Hingga akhirnya kita berada di sana kawan
lagi lagi kita...

Memecah rindu pada negeri di atas awan....
Menyampaikan pesan di atap tertinggi pulau ini... 

Mahameru namanya

Aku...
Sungguh masih ingin bersama
Tapi kita....
adalah kita, yang hanya bertemu dalam rangkaian perjalanan

Akankah tetap menjadi kita, saat jarak dan jejak menjadi saksi tentang pastinya sebuah pergi?

-miezfy-
June 11th
Bidakara 2 Tower
13:23

Masih Bolehkah?





Di bawah langit pagi kita bertemu
Berawal dari tak tahu apa apa
lalu mengenal nama
hingga akhirnya berkawan tanpa sungkan

Percakapan kita jarang jarang
Tapi waktu seakan tak kenal putaran saat rangkaian nostalgia mengalir dalam obrolan panjang pada si jarang jarang
Kita dan malam penuh cerita, seakan bukan kemarin baru berjumpa

Dari kisahmu,
Aku melihat kampung halaman yang sampai hari ini hanya bisa kurindukan
Dari kisah kita,
Aku melihat aku yang berkaca
Hei...ternyata banyak rupa yang sama

dan..
Bagaimana aku harus menamaimu?

Ah ya, ada sebuah nama istimewa untukmu
nama yang hanya tersemat pada mereka yang bertahun tahun lamanya berada di hati
Nama yang hanya dengan nama itu, kami telah bersama bermain, berjalan, berjuang

Dan kini saat ragu berganti pasti
saat tanya satu persatu pergi

Masih bolehkan kunamaimu Sahabat?


-Miezfy-

terinspirasi dari puisinya Uni Yenti

Menyampaikan undangan






Perkembangan teknologi sosial media semakin pesat dari hari ke hari, begitu pula pola berpikir masyarakat. Kini, bersilaturrahmi hanya untuk sekedar bertatap muka dan berbincang panjang sudah mulai ditinggalkan. Cukup melalui media sosial, rindu tak lagi menjadi pikiran. Termasuk di dalamnya, soal undang mengundang.


Teringat sebuah percakapan sederhana antara saya dan sahabat saya, Sarah. Kami tengah berbincang tentang etika mengundang teman saat itu. Kami sepakat, bahwa undangan sederhana yang dikirim oleh salah seorang teman sekelas kami adalah contoh yang sangat baik di tengah maraknya trend undangan  broadcast dengan kata kata indah dan ayat suci. Teman kami itu, hanya mengatakan dengan sangat sederhana "Tih, gw nikah tanggal XX di XXX, datang ya". Entah kenapa, kalimat sederhana yang singkat itu memiliki kesan tersendiri bagi saya dan Sarah. Memberikan hal yang eksklusif, ternyata bisa sesederhana itu. Saat itulah, kami memahami, bahwa mengundang orang pun memiliki etikanya tersendiri. Tidak perlu cetak undangan yang mahal mahal dengan design aduhai mewah, atau apapun. Cukup kata kata sederhana tapi disampaikan langsung tanpa perantara, tanpa perwakilan di grup, adalah etika paling baik dalam menyampaikan undangan secara pribadi. Jadi, betapa banyak pun teknologi yang ada untuk menyebarkan undangan, baik dari grup Whatsapp, grup BBM, tag Facebook, pengumuman di Twitter, Path, tetap tidak ada yang bisa menggantikan "penyampaian secara langsung".

-miezfy-






Memahami "Ayah"





Pada suatu sore, saya berkunjung ke sebuah rumah. Ya, itu memang menjadi kunjungan yang paling dinanti selama sebulan terakhir kemarin. Hari itu, banyak pertanyaan yang tiba tiba saja bermunculan, khususnya tentang bagaimana mereka, apakah saya akan baik-baik saja, dan sebagainya. Orang pertama yang saya lihat setibanya di sana adalah seseorang yang dipanggil Ayah. Saya langsung bisa memahami, darimana "dia' memperoleh senyum ramahnya. Sore itu, melewati berbagai macam percakapan, saya lebih banyak mengenal seseorang bernama Ayah, banyak kisah yang diceritakan seperti masa masa ketika beliau berkontribusi, mendengarkan curhatan banyak orang, hingga bagaimana beliau mengasuh anak-anaknya hingga tumbuh menjadi anak yang begitu bertanggung jawab.

Mengenang percakapan percakapan pada "kunjungan sore" itu, pikiran saya kemudian beralih kepada sosok "Ayah" lain di rumah sederhana beberapa kilometer dari rumah itu. Sosok "Ayah" yang juga gemar sekali bercerita, berbagi pengalaman. Per hari kemarin, sebelum saya menulis hal ini, sosok "Ayah" itu baru saja membuat putrinya ini menangis. Ya, bukan pertama kalinya "Ayah" membuat saya menangis. Bukan karena beliau tidak menjalankan perannya dengan sangat baik, bukan. Bagaimanapun, beliau adalah "Ayah" terbaik. Beliau akan selalu bersedia melindungi saya dari apa pun, bahkan dari makhluk kecil tidak berdaya yang bernama "kecoa". Hanya saja, saya masih belum bisa memahami apa yang menjadi keinginan beliau, sebagaimana beliau yang juga tidak selalu memahami apa yang menjadi keinginan saya. Saya tidak pernah tahu caranya menyampaikan keinginan saya. Tidak ada yang pernah mengajari kami caranya saling berkomunikasi sebagai Ayah dan anak. "Ayah" lebih banyak berbicara, saya lebih banyak mendengar. Sesederhana itu. Kami hanya berasumsi satu sama lain bahwa kami saling mengerti dan memahami. Peran sebagai anak mewajibkan saya untuk lebih banyak berkata "iya Pa" dibandingkan "Tapi kan..."

Dan apa kalian tahu, sulitnya memahami orang yang terlahir menjadi "Pahlawan" dalam hidup kita ternyata bukan hanya menjadi masalah saya, Banyak sekali anak di dunia ini, yang sampai di usia senja kedua orang tuanya, masih tidak bisa memahami sama sekali. Sepertinya, Psikologi Orangtua juga wajib dipelajari oleh setiap orang, sama pentingnya dengan mempelajari Psikologi Anak. Bukan hanya karena kita butuh memahami kedua sosok yang begitu mencintai kita tanpa syarat, tapi karena kelak, kita akan menjadi mereka. Sangat penting untuk melatih diri kita, mengambil, mencontoh, dan meniru apa pun yang dibanggakan dari mereka. Sama pentingnya dengan menjaga diri kita, dari memiliki sifat sifat tidak baik yang mungkin saja akan kita miliki kelak yang tanpa sadar akan kita tiru.

Belajar memahami, adalah proses tanpa kenal kelulusan, karena di dunia ini tidak ada orang yang benar benar saling memahami, pun dengan kita dan diri sendiri. Tapi memahami adalah proses pembelajaran yang harus selalu kita lakukan, karena tanpa proses itu, kita tidak akan pernah mengerti betapa berharganya kita bagi mereka.

 Memahami "Ayah" adalah Pe Er yang tak ada habisnya. Perjalanan hidupnya yang luar biasa, buku buku yang dibacanya, karya karya yang ditulisnya, adalah rangkaian sejarah yang jika dibukukan sekali pun entah akan menghabiskan beberapa naskah.

Tapi lalu, saya cukup memahami satu hal, yang sangat sederhana, dan hanya dengan mengingatnya rasa sulit dalam memahami pun sirna seketika.

Satu hal yang saya pahami tentang Ayah "He loves me".

Selamat Hari Ayah.

Dear Papa, terima kasih.......

Jakarta, 12 November 2014






Sesekali





Sesekali,
Berbincanglah pada gelisah. Tanyakan padanya tentang keberadaan. Mungkin..sedikit percakapan dapat membuatnya tenang

Sesekali,

Habiskan malam untuk berbicara pada rasa enggan.Bujuklah untuk kembali mencoba, mungkin esoknya ia tak kan ragu lagi melangkah

Sesekali,
Ajaklah bicara si tak percaya diri. Lalu ajarkan caranya menulis mimpi. Kelak, ia tak akan khawatir dengan jurang di depan mata.

Ya Kawan, sesekali.. kunjungilah sisi lain yang kita sembunyikan di balik pagi. Sedikit demi sedikit, kita akan tersenyum tanpa tapi

_miezfy_


Resensi Novel: Bumi





Well,

Sejauh saya kenal beberapa nama novelis Indonesia, seperti Dee, Asma Nadia, Kang Abik, Andrea Hirata, dll, Bang Tere adalah novelis yang sesuatu banget. Gak cuma produktifitasnya yang tinggi, kualitas tulisan yang bagus dari hari ke hari dan sarat akan makna, tapi baru kali ini saya menemukan novelis Indonesia, yang dengan gaya kepenulisan yang sama, mampu menghasilkan novel dengan banyak jenis genre.
Banyak yang sepakat, Bang Tere TOP banget untuk genre roman. Tengoklah Sunset Bersama Rosi, Aku Kau dan Angpau Merah, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Tapi, novel dengan genre keluarga pun, sangat sangat bisa diacungkan jempol. Tentunya sudah pernah membaca Ayahku (bukan) Pembohong, Hafalan Sholat Delisa.

Saya lalu tambah terdecak kagum oleh bang Tere saat membaca genre apa ya namanya? Entah action, atau politik. Apapun itu, Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk mungkin saya rekomendasikan sebagai the must read novels ever. Kisah mengenai konsultan jenius ini, meski gak sedahsyat novelis sekelas Inferno, tapi menurut saya sangat berkelas.

Dan... gak berhenti di dua novel tadi, lagi lagi Bang Tere mengejutkan pembaca novelnya dengan menerbitkan serial "BUMI". Awal membaca summary nya, saya berpikir ini mungkin seri keluarga lagi, sama seperti seri anak anak Emak. Atau mungkin kisah psikologi sebagaimana novel novel lain.
Tapi saya benar benar kaget, saat mulai membaca 3 Bab novel ini. 

Dear Bang Tere, are you kidding us? Saya bener bener gak nyangka, si penulis novel ini adalah orang yang sama dengan yang menulis novel seromantis Sunset Bersama Rosie, atau penulis yang sama dengan novel semenyentuh Hafalan Shalat Delisa.

Well... believe it or not. Novel ini memang karya besarnya seorang Tereliye. Novel dengan genre fiksi yang penuh imajinasi sebagaimana kita pernah membaca Harry Potter, Eragon, Divergent. 

Berkisah mengenai Ra, anak berumur 15 tahun yang memiliki kemampuan bisa menghilang, dengan Seli dan Ali, teman sekelasnya. Mereka terlibat petualangan seru di "dunia lain", di tempat yang sama bernama Bumi. Ada 4 klan yang hidup di Bumi secara terpisah, lalu ada masa lalu, petarungan, misteri. Yah... baca sendiri lah.. biar seru. haha

Do I like it?
Yes, I do.. as always. Memang sih, jangan berharap akan menemui kisah semenegangkan Harry Potter, atau bahkan Twilight. Tapi, untuk saya yang merindu pada masa masa kecil yang penuh imajinasi. Novel ini, benar benar mampu membuat saya tersenyum selama membaca.

Selamat Bang Tere. Sepertinya Anda memang terlahir untuk menulis...
:D

Rasa rasanya




"Rasa rasanya…. aku belum pernah merasakan jatuh cinta".
Ungkap seorang kawan di suatu malam. Aku tersenyum senang mendengarnya.

Kamu tahu kawan… tidak ada yang istimewa dari jatuh cinta. Ada perasaan senang tercampur gelisah, perasaan rindu tercampur ragu. Tiba tiba saja ada banyak kupu kupu. Ah… bagiku… jatuh cinta itu merepotkan. Semakin kamu bahagia, semakin besar juga luka yang terasa kelak. Biasa sajalah. 

Bukankah hidup kita saat ini menyenangkan? Memiliki teman yang banyak, keluarga yang utuh, pekerjaan yang bagus, cita-cita yang tinggi. Terlebih dari semua itu, kita punya keimanan dan keislaman….
Suatu saat nanti kita akan jatuh cinta. Jika belum… baguslah. Itu berarti… kita masih diizinkan bahagia tanpa harus terluka.
Aku serius kawan…. nikmati masa masa di mana jatuh cinta itu belum menghampiri. Bagiku… itu adalah masa masa yang menyenangkan. Kamu bisa berbagi dengan siapa pun… dengan apa pun, mengunjungi tempat mana pun yang kamu suka tanpa khawatir tentang hal sederhana bernama ‘perpisahan’ dan ‘pertemuan’.
Jagalah hati itu… hati yang tak terjatuh.
Berdoa saja… semoga kelak, ia akan jatuh di saat dan tempat yang tepat.
November 20th
Miezfy
RSIA Restu Kasih, Cililitan

Senja Jakarta Hari Ini



Tak pernah habis dunia bersajak tentang senja
Seperti hari ini
Aku menyapa senja dari balik jendela transjakarta
Mengagumi jingga malu malunya bersembunyi di balik pencakar langit
Biru yang menggelap perlahan tersenyum mengantar malam
Kerlap kerlip lampu pengguna jalan memesona ibukota
Tapi hanya aku yang mengagumi senja Jakarta
Mereka di kanan kiriku tak menyadari cantiknya
Terlelap dalam tidur pura pura
Atau menenggelamkan diri bersama gadget
Senja hari ini memang istimewa
Dia tak lagi muram dan basah
Begitu cerah bak putri raja jatuh cinta
Padahal ini awal musim penghujan
Aku menatap senja sampai ia tiada berganti gelap
Dari mengagumi ciptaanNya.. kini saatnya berkisah padaNya tentang kekaguman itu
Meski Ia tahu…dan selalu tahu…
Paling tidak ingin kusampaikan terima kasih kepadaNya karena telah menciptakan senja…

November 18th, 2013
@miezfy
Tranjakarta Tj Priok-Cililitan

Saat




Saat september, aku menunggu Desember
Desember datang, aku menunggu Januari
Kini menunggu datangnya Juni
Lalu saat Juni tiba… akankah kembali menunggu Januari?
(Permulaan tahun,2013)
Juni itu telah terlewati…
tidak hanya Juni. Tapi juga Juli, Agustus, bahkan Desember sedang dalam perjalanannya untuk tiba.
Tapi aku tak lagi menunggu apa pun. Tidak juga Januari.
Tiada hari tanpa langkah
Tiada bulan tanpa perjalanan
Tiada tahun tanpa pembelajaran
Sebuah kehidupan baru, tanpa penantian.
18 November, 2013
Sunter Podomoro

Sebuah kisah




Aku suka pantai…
Melihat cantiknya matahari dan warna jingga malu malu…
Bermain bersama pasir, menapak jejak….
Menyatu dalam lautan, mengenal kebebasan.
Pantai dan lautan
tempat terbaik untuk bercerita tentang rindu
Penat terlepas menjadi untaian sajak
Bisik hati menjelma sebagai angin pengantar pesan
Romantisme yang ditawarkan, membuatku hanyut dalam kisah senja yang indah.
Aku suka pegunungan…
Menikmati lelah dalam pendakian menuju puncak.
Bercengkrama dengan pepohonan, bebatuan, sesekali kerikil tajam.
Memaknai kehidupan bersama edelweis, bunga keabadian yang tetap indah sekalipun telah habis masa rekahnya.
Mengunjungi negeri di atas awan,  merasakan kebebasan.
Pegunungan dan negeri di atas awan adalah tempat terbaik untuk bercerita tentang impian
Ragu terlepas menjadi cita-cita
Bisik hati menjelma sebagai harapan
Ketegaran yang mereka tawarkan membuatku bangkit dari kisah sesak di suatu pagi.
Kisah tentang gunung dan pantai,
Lautan dan negeri di atas awan…..
Adalah kisah tentang mengenal luka. Mengenal datangnya, mengenal perginya.
Datanglah ke pantai, pergilah mengenang bersama lautan.
Datanglah ke gunung, rayakan rasa sakit bersama negeri di atas awan…
November, 17, 2013
Kelapa dua wetan

IBU (Teater Koma) -- Sebuah Ulasan

Sebenarnya ini bukan resume yang terbaik. Selain sudah pernah terhapus karena sebuah kesalahan bodoh, masih banyak para blogger penikmat seni yang telah mengulas lebih komprehensif. Bahkan, karena keterbatasan gadget, saya hanya bisa mengambil foto-foto dari google saja.. hehe.

***

Well... ini mungkin memang bukan pertunjukan teater pertama yang saya hadiri. Hmm.. tapi bisa dibilang ini adalah pertunjukkan teater berkelas pertama bagi saya. Teater Koma sendiri merupakan salah satu teater ternama yang sudah menggarap beberapa karya para dramawan dunia antara lain William Shakespeare, Georg Buchner, Moliere, Aristophanes, Arthur Miller, George Orwel, Alfred Jarre, Friedrich Durrenmatt, Evald  Flisar, dan Bertolt Brech. Siapa mereka? Silahkan googling ya. Di antara semua karya yang dipentaskan Teater Koma tersebut saya hanya tahu Romeo Yuliet dari William Shakespeare. Haha.

Pementasan yang saya dan keempat teman AADT hadiri 14 November lalu itu berjudul IBU, disadur dari naskah BERTOLT BRECHT, seorang dramawan sekaligus penyair legendaris asal Jerman dengan judul asli Mutter Courage und Ihre Kinder (Mother Courage and Her Children). Disutradarai oleh N. RIANTIARNO, produksi ke 131 Teater Koma ini digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.

Sosok IBU dan keretanya yang menggantung langsung menyambut kami di pintu masuk. Beberapa menit keterlambatan tidak mengurangi ke "excited"an saya akan pertunjukan ini. Meski harus mengeluarkan uang yang lumayan (setara dengan dua tiket XXI), tapi tidak mengapa. Bagi saya... pertunjukan teater selalu keren dan menarik. 

 
 photo by me

Saya langsung dibuat kagum oleh sosok Ibu Brani yang diperankan oleh Sari Madjid. Permainan karakter yang benar-benar hebat. Begitu kuat dan stabil. Seakan terperangkap pada alur cerita bersama sosok Ibu Brani yang tegas, penuh keberanian, dan gigih. Ibu Brani beserta ketiga anaknya- si sulung Elip, Fejos si Keju Swiss, dan si bungsu bisu Katrin- hidup di tengah peperangan antara dua resimen yang memperebutkan kekuasaan, yaitu Matahari Hitam dan Matahari Putih. Prinsip Ibu Brani, dia tidak mau terlibat tapi harus memperoleh keuntungan dari peperangan. Sedikitnya jumlah pedagang kelontong menyebabkan Ibu dan ketiga anaknya bisa leluasa berjualan dengan kereta warungnya.

 Ibu Brani dan ketiga anaknya (source: foto.ureport.news.viva.co.id)

 Ibu Brani (source yudasmoro.net)


Sayang, malang tak dapat ditolak. Meski sudah dilarang keras, secara berturut turut, Elip dan Fejos pun masuk menjadi tentara Matahari Hitam. Elip masuk terlebih dahulu sebagai prajurit, sementara Fejos masuk setelahnya sebagai Juru Bayar. Tinggallah Katrin si bisu yang menemani Ibu Brani berjualan. Ibu selalu berjanji kepada Katrin untuk mencarikan suami saat perang telah berakhir. Dia tak mau nasib putrinya sama seperti Ipit Poter (di naskah asli bernama Yvette Pottier), wanita jalang langganan warung Ibu Brani. Lalu, dua pria masuk ke dalam kehidupan ibu Brani. Kaplan, pendeta Matahari Hitam yang menyamar serta Domba si Koki (atau Piter si Pipa).

 Ipit Poter (source : nimadesriandani.wordpress.com)
 
 Ibu (tengah) di antara dua pria, Piter si Pipa (kiri) dan Kaplan si pendeta (kanan) (sumber : www.adjisubela.com)


Elip si sulung menikmati masa masanya menjadi prajurit. Kecerdasan yang selalu dibanggakan oleh Ibu Brani itu menjadikannya orang yang dipercaya oleh para jenderal. Tapi bukan peperanganlah namanya, jika seorang prajurit jauh dari bedil yang menembak. Sementara Fejos, meski kurang cerdas, tetapi kejujuran yang selalu dibanggakan Ibu juga membawanya menjadi orang kepercayaan.

 Elip (kanan), Jenderal (tengah), pendeta (kiri)  (sumber : nimadesriandani.wordpress.com)

Katrin Hupla namanya. Ia bisu. Tapi, di antara semua peran, dia adalah favorit saya. Padahal saat di awal, saya berpikir... "ih...garing amat dapat peran jadi orang bisu. Gak ada dialog yang harus dihapal". Coba bandingkan saja dengan sosok Ibu yang harus menghapalkan berbaris baris bahkan berlembar lembar dialog panjang. Tapi.... bisa jadi justru peran inilah salah satu yang tersulit. Diperankan oleh Ina Kaka, sosok Katrin adalah yang paling menarik perhatian, dan sekaligus paling banyak mengundang tawa. Keluguan, kepolosan, dan spontanitas tanpa katanya sukses mencuri hati penonton. Salah satu adegan yang paling saya ingat adalah saat Katrin begitu stress karena Fejos tak juga mengerti apa yang ia coba jelaskan. Seluruh anggota tubuh yang bergerak menggantikan bahasa kata yang tidak dimilikinya. Kalimat Fejos "hanya Ibu yang mengerti kamu" dan ekspresi stress Katrin langsung mengundang tawa kami.

 Katrin (kiri) dan Fejos (kanan) saat Katrin sedang berusaha menjelaskan keadaan bahaya pada Fejos. (sumber : nimadesriandani.wordpress.com)

Banyak adegan yang mengundang tawa bukan berarti ini adalah kisah komedi. Setelah Katrin gagal menjelaskan kepada Fejos tentang kedatangan prajurit musuh ke tempat mereka saat dia pergi, Fejos tetap meneruskan rencananya untuk membuang peti uang ke sungai. Dan tertangkaplah ia. Ibu Brani pun pada akhirnya melakukan tawar menawar untuk menebus anaknya melalui Ipit Poter. Tapi..waktu tawar menawar yang terlalu lama membuat semuanya terlambat. Fejos pun terbunuh dengan 11 tembakan di tubuhnya. Lebih menyedihkan lagi.... Ibu Brani terpaksa tidak mengakui jenazah anaknya saat prajurit itu datang membawa tubuh tergulai yang tidak bernyawa itu pada mereka. Adegan ini adalah adegan yang terbaik menurut saya. Kebisuan Ibu Brani, tangis tanpa kata dari Katrin... cukup menggambarkan suasana yang lebih dari sekedar kesedihan. Penyesalan, rasa kehilangan yang besar, ketidakberdayaan, terasa begitu nyata oleh akting yang minim kata saat itu. 

 Katrin dan Ibu Brani saat mendengar kematian Fejos. Oh maan.. saya paling suka adegan ini. (sumber : cabiklunik.blogspot.com)

Singkat cerita, perdamaian pun tiba. Perdamaian yang dinanti sejak lama. Saat di mana Katrin sudah dijanjikan Ibu untuk dicarikan seorang suami. Tapi ternyata perdamaian tak lagi indah. Katrin mendapatkan cacat di mukanya setelah sebelumnya diserang oleh prajurit saat perjalanan ke pasar. Ia tak lagi mau bertemu siapa pun. Selain itu, bagi Ibu Brani, perdamaian berarti kebangkrutan karena kereta warungnya tak lagi ramai. Saat semua orang berbahagia karena perang, Ibu dan Katrin justru tenggelam dalam kepasrahan nasib.

Elip yang ditunggu tunggu pun datang. Tapi saat itu, Ibu tengah ke pasar untuk menjual kembali barang dagangannya. Tapi Elip datang tidak sebagai pria bebas. Ia datang bersama dua polisi. Kebiasaannya membantai petani saat jaman perang dulu, membawanya ke dalam posisi sulit. Belum sempat bertemu ibunya, ia pun pergi bersama kedua polisi tersebut.......dan tidak pernah kembali.

Perdamaian setelahnya tinggallah nama. Perang berkecamuk lagi. Setelah ditinggalkan oleh Kaplan si pendeta, kini giliran Piter yang menemani Katrin dan Ibu. Kehidupan mereka semakin sulit. Rakyat semakin miskin dan tidak mampu membeli. Sampai suatu ketika, Piter mengajak Ibu untuk hidup bersamanya mengurus bisnis penginapan. Tapi sayang, pria itu tidak ingin Katrin yang bisu dan cacat turut serta. Dan karena itu, Ibu Brani meninggalkan Piter. Tinggallah mereka berdua saja yang menarik gerobak...

Kisah ini pun mencapai akhirnya. Saat Katrin yang lugu, polos, dan naif mengeluarkan keberaniannya membunyikan genderang untuk meminta bantuan. Upayanya menuai hasil... tapi sayang, itu adalah keberanian pertama dan terakhir yang dikeluarkannya. Katrin pun tertidur untuk selamanya akibat luka tembak dari prajurit Matahari Putih.

kematian Katrin (source : www.jakpost.travel)

Tidur,tidurlah anakku sayang
Tiada lagi yang perlu kau risaukan
Satu anakku mati di tanah seberang
Satu lagi entah di mana sekarang
-senandung sang Ibu sambil mengusap jenazah putrinya-

Ibu Brani pun tetap melangkah dalam perang yang masih berkecamuk, menarik keretanya, sebatang kara.....
 
-the end-

***

Ini bukan kisah tentang hubungan romantis antara anak dan orangtua. Tidak juga bercerita tentang kisah mengejar impian dan cita-cita. Bagi saya kisah ini seakan mengatakan bahwa bertahan hidup bukanlah perkara yang mudah. Kita akan selalu dihadapkan dalam pilihan. Seperti Ibu yang memilih kereta warung untuk berjualan demi mempertahankan hidup. Seluruh dunia boleh mengutuk peperangan. Tapi baginya, perang adalah ladang uang. Tapi.... peperangan tetaplah peperangan, tak pernah sedikitpun membawa kebaikan. Baik bagi pihak yang menang maupun bagi pihak yang kalah, peperangan tetap merupakan nestapa untuk rakyatnya. Bahkan bagi orang yang mengambil untung dari peperangan seperti Ibu Brani, tetap saja peperangan merenggut harta yang paling berharga, anak-anaknya.

Selebihnya ini adalah kisah tentang kondisi peperangan, kebusukan penguasa, korupsi, penyuapan, dan hal-hal sejenis bernama 'ketamakan' yang hidup bersama perang.

It was totally awesome...

Makasih buat Teguh, Nita, Offi, Lisdha, dan Arga (meski gak jadi nonton).
Resume yang "apalah ini" saya tulis secara khusus untuk AADT. :)

Seni menikmati seni




Ah... sudah berapa lama ya tidak menikmati panggung megah itu sebagai penonton. Terakhir kali saya menikmati pertunjukan teater adalah saat menyaksikan sebuah pementasan di GBK. Tapi saya kurang puas entah kenapa. Atau sebelumnya lagi.. saat sendiri bermain dalam pementasan "Lysistrata", saat event wisuda SMA dulu.
Fyi, tidak semua orang mengerti cara menikmati pertunjukan teater. Jelas.. jauh berbeda dengan menonton sinema layar lebar. Kita tidak akan menemukan layar yang membentang di sepanjang sisi ruangan, dengan ekspresi yang jelas dari masing-masing pemain. Kita juga tidak akan menemukan efek efek dahsyat yang akan membuat kita berdecak kagum, menutup mata karena kengerian,berteriak karena kaget, atau menahan nafas karena tegang.
Yang lebih terasa perbedaannya adalah saat seorang teman menolak ajakan nonton teater ternama yg akan saya kisahkan pertunjukannya ini dengan sebuah alasan realistis... "bayar tiket nonton itu sama aja beli dua tiket bioskop. Mending nonton bioskop aja dong"
Well..dude. Biarlah orang berkata apa. Sebuah seni itu sejatinya tidak dihargai dengan cara matematis.
Duduk di bangku VIP mungkin tidak akan membuat perbedaan jauh itu terlihat. Karena semua ekspresi, terbaca dengan jelas...
Tapi...cobalah rasakan saat berada pada bangku kelas reguler, di sanalah seni dalam menikmati pertunjukkan akan benar benar terasa.
Pertunjukan teater adalah seni peran tingkat tinggi. Tidak semua aktor ataupun aktris film bisa memainkannya. Mementaskan sebuah pertunjukkan berdurasi panjang di panggung megah, dengan vokal yang stabil dari awal sampai akhir jelas membutuhkan teknik tingkat tinggi. Belum lagi, untuk menyampaikan pesan pada penonton bangku belakang seperti kami... tidaklah cukup dengan suara ataupun mimik wajah. Jelas...kami tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Itulah mengapa... dalam seni peran ini, seluruh anggota tubuh adalah ekspresi, harus bergerak. Beda banget kan sama sinetron Indonesia yang cuma ngeshoot muka dengan make up menor.
Jangan terpaku pada jalan cerita. Kita tidak sedang menonton drama korea di layar kaca dengan para pria tampan dan wanita cantik. Banyak hal yang bisa kita nikmati dari pertunjukkan tersebut. Kesuksesan peran yang dimainkan, pesan yang ingin disampaikan, dekorasi panggung yang keren, musikal yang indah, penataan cahaya dan suara yang luar biasa, keteraturan blocking, ldan masih banyak lagi. Seakan akan melihat satu kesatuan seni yang indah. Sebuah keberaturan, kreativitas dan imajinasi yang berkolaborasi dalam panggung megah.
Rumus sederhananya adalah...
Setiap orang tidak bisa menikmati semua jenis seni.
Seperti saya yang begitu menyukai puisi, tapi tak pernah paham cara menikmati lukisan. Saya tidak pernah mengerti mengapa sebuah gambar pot bunga saja bisa bernilai hingga puluhan juta.
Jadi menikmati sebuah pertunjukan, harus diawali dengan ketertarikan dan bisa sedikit pengetahuan tentangnya. Asa beberapa pertunjukan yang bisa dinikmati oleh semua orang... tapi tidak sedikit pertunjukkan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mengerti cara menikmatinya.

Sesuatu itu Bernama Hati




Sesuatu itu bernama hati.

Tidak berwujud tidak berbentuk. Ia berada menyatu begitu saja dengan tubuh. Menghubungkan otak,jantung,pembuluh darah dan organ kinestetik luar. Beberapa berpendapat bahwa hati mungkin saja jantung. Mungkin karena ia dekat dengan kehidupan.

Tapi... hati lebih dari sekedar detakan yang membentuk irama. Hati bukan hanya gumpalan daging yang berwarna. Ia berada jauuuh.... di sisi terdalam manusa. Dekat dengan naluri.

Kita tidak bisa melihatnya. Tapi bisa merasakannya. Hati melahirkan kasih sayang,simpati,kepedulian,dan semangat. Melalui hatilah, Tuhan selalu berbicara dengan kita. Saat tak ada hijab antara hati kita denganNya... saat itulah hati kita selalu dipenuhi olehNya.

Tapi....hati ibarat mutiara indah yang berada di dunia luar. Ia begitu mudah untuk ternoda. Terkadang ia sakit,oleh ulah dari yang namanya iri,dengki,dendam. Sering sekali ia lusuh karena debu debu prasangka yang selalu hadir. Bahkan banyak yang menghitamkan hatinya sehingga tak bisa sama sekali dirasakan keberadaannya.

Hati juga sangat rapuh, bagaikan gelas berlian yang mudah pecah. Tidak ada hal sebaik keimanan yang bisa menjaganya. Saat iman lemah,ia akan mudah untuk patah bahkan ternoda.

Tuhan menciptakan hati yang begitu mudah ternoda bersamaan dengan Taubat sebagai pencucinya. Hati bisa kembali bersih dan selalu bersih dan semakin bersih. Bahkan.... Taubat lah yang bisa menguatkan kembali hati yang retak.

30 Maret 2013
00.16 a.m

Mendefinisikan Karakter



Sangat lucu saat membuka ratihkumaladewi.blogspot.com, penasaran dengan orangnya seperti apa, lalu membuka link "about me" dan menemukan tulisan Ratih 5 tahun lalu. Buat orang yang baru mengenal saya, pasti terkejut saya bisa menulis seperti itu. Buat orang yang sudah lama mengenal saya, so pasti tidak heran kan.. :)

Saya tidak selamanya menjadi anak kecil yang polos, yang tertawa riang saat bahagia, dan nangis bombay lebay di kala sedih. Seorang sanguinis pun memiliki kewajiban untuk menjadi dewasa. Cita-cita saya saat masuk kampus adalah menjadi wanita anggun. haha. #seriously. Kesampaian? Hampir, saat di tingkat empat, kalau saja saya tidak bertemu dengan anak-anak usil yang sampai hari ini mewarnai kehidupan saya dengan persahabatan mereka.

Dulu saya pernah berpikir, menjadi orang sanguinis itu tidak keren. Coba liat orang-orang Melankolis, hidup mereka tertata rapi seperti buku agenda. Coba lihat orang-orang korelis, kemampuan mereka memimpin dan membuat keputusan seperti singa. Coba lihat orang-orang plegmatis, hidup mereka damaiii sekali. Bandingkan dengan kami, para sanguinis, tim hore yang lebai. Tapi kini saya sadar, karakter manusia tidak sesederhana itu. Tidak selamanya seorang Ratih adalah seorang sanguinis. Kalo kamu pernah baca puisi-puisi yang saya buat, kamu akan percaya bahwa saya ini adalah melankolis sejati, karena melownya total sob! hehe. Kalau kamu pernah lihat saya memimpin anak-anak saat di MPKMB, atau MPF, kamu pasti percaya bahwa jiwa korelis saya ni lumayan laaah. Kalau kamu pernah terlibat dalam penyelesaian masalah pertikaian antar teman bersama saya, kamu pasti percaya saya ini cinta damai.. #peace, plegmatis asli kan. :) 

Mendefinisikan karakter itu menjadi hal yang harus kita lakukan minimal ketika wawancara kerja. Pertanyaan.. "jelaskan kelebihan dan kekurangan kamu", itu ternyata bukanlah sekedar pertanyaan. Banyak orang yang baru sadar bahwa mereka tidak mengerti jawaban atas pertanyaan itu. Termasuk saya. Hehe. Saya ini orang yang sangat jago diplomasi jawaban (bahasa kerennya "ngarang"). Bisa jadi jawaban2 tentang "siapa saya" yang saya utarakan saat wawancara kerja hanyalah jawaban diplomatis semata.. bisa jadi. Bisa jadi benar, bisa jadi... sedikit benar (karena saya tidak  berbohong loh. Hehe).

Setiap dari kita memiliki gaya yang berbeda dalam mendefinisikan karakter. Ada yang menjelaskan dengan sistematis, ada yang menjelaskannya dengan penuh ketegasan, ada yang menjelaskannya datar datar saja, ada yang menjelaskannya dengan sangat abstrak. Hei...bahkan cara kita mendefinisikan karakter secara tidak langsung telah menjelaskan karakter kita.

Baiklah.....bagaimana kalau kita sepakati, tak usahlah repot repot mendefinisikan karakter. Berhentilah di titik di mana kita cukup memahami cara menghadapi diri sendiri. Karena, dibandingkan mendefinisikan karakter yang tak jelas sitasinya, memahami diri sendiri dengan baik sudah lebih dari cukup. :)

Selamat belajar mengenal diri sendiri, seperti saya yang masih mencari jawaban terbaik untuk "siapa saya?"

Cantik

Aku suka sekali menjadi cantik. Menjadi seperti mereka yang berpose indah di layar kaca. Bukannya dunia memuji mereka? Dengan gaun indah bertabur emas, wajah mulus dengan pipi merona. Tidak ada orang yang tidak suka kecantikan. Banyak wanita yang rela melecetkan kaki, menambah beban muka dengan make up, berjam-jam di depan kaca, hanya demi ‘terlihat cantik’. Ya, banyak wanita, dan mungkin juga aku. Apalagi jika semua pengorbanan itu dibalas dengan pernyataan “wah..kamu cantik ya”. Percayalah, tidak ada wanita yang tidak suka dipuji kecantikannya. Termasuk aku, dan mungkin juga kamu. Kecantikan itu adalah sesuatu yang indah.

Tetapi, persepsi cantikku kini sudah bergeser. Setelah aku menyadari, bahwa saudar saudari ku yang cantik itu, justru mengurangi kecantikan mereka dengan ‘perlengkapan cantik’ mereka. Sungguh, lalu aku pun membandingkan diriku sendiri.

Ya, dear all girls in the world, ternyata bukan sepatu tinggi, baju modis, make up tebal, atau aksesoris mahal yang membuatmu cantik. Aku baru sadar, bahwa yang membuat wanita cantik itu adalah senyuman mereka. Senyum yang tulus, senyum yang apa adanya, dengan atau tanpa gincu. Yang membuatmu cantik adalah, wajah cerahmu yang memancarkan aura kebahagiaan, yang mungkin tidak akan terlihat karena dandanan yang tebal itu. Yang membuatmu cantik adalah, mata indahmu, yang memancarkan impian, ia terlihat begitu bersinar, bukan mata yang tertutupi soft lense, eyeshadow dan maskara.

Tahukah kamu? Cantik itu sangat sederhana. Bukan menjadi cantik yang membuatmu bahagia, tetapi kebahagiaan dan rasa syukurlah yang menjadikanmu cantik. Tidak masalah jika kamu tidak mengikuti trend dan mode, kamu akan tetap cantik dengan segala kesederhanaanmu.
Apalagi, jika kamu selalu memanjakan wajahmu dengan siraman air wudhu, dan doa. Kecantikanmu akan berlipat lipat……

Aku suka menjadi cantik. Tapi kini aku tidak pusing lagi dengan kecantikan, karena kesederhanaan, adalah kecantikan yang paling indah. :)

Belajar Merawat Indonesia


Belajar Merawat Indonesia.

Aku jatuh cinta sejak pertama kali mendengar judul buku yang berisi kumpulan tulisan tulisan saudara2 ku di Beasiswa Aktivis Nusantara ini. Nama BMI menjadi tagline yang benar-benar pas tidak hanya untuk kami, BAKTI NUSA Dompet Dhuafa, tetapi juga untuk para aktivis di bumi nusantara ini.

Well, mungkin selama ini kita terlalu sombong, mengatasnamakan bangsa untuk mengoreksi semua hal yang dilakukan pemerintah. Berkedok mahasiswa, bermodalkan almamater dan idealisme, lalu datang ke Jakarta dengan berbagai macam tuntutan di aksi jalanan. Ya, padahal kita masih bermasalah dengan nilai akademik yang tak kunjung membaik. Atau mungkin kita, masih menemui masalah dengan profesionalisme di dalam organisasi kita sendiri. Atau bahkan kita, yang pandai mengoreksi ini bahkan ternyata tidak pernah menyadari ada tangisan2 yang selalu mengiringi di setiap langkah kaki menuju kampus. Tangisan dari mereka yang kelaparan, dan kita tidak menyadari. Ya, mungkin kita terlalu sombong jika berpikir bahwa kita berhak untuk menuntut presiden untuk turun. Atau mungkin terlalu tinggi nama “agent of change” yang selama ini kita banggakan. Kalau status mahasiswa itu sudah berakhir, masih pantaskah gelar agen perubahan disandang? Atau kita hanya akan menjadi kumpulan manusia pencari nafkah yang hanya peduli dengan masa depan diri sendiri? Entah.

Tapi, pembelajaran yang penting yang kudapatkan dari “Belajar Merawat Indonesia” adalah, kita bisa jadi terlalu sombong mengatasnamakan perubahan untuk mengoreksi negri, padahal ilmu yang kita pelajari belum tentu lebih tinggi dari mereka yang duduk di kursi pemerintahan. Atau, kita bisa jadi terlalu tinggi menilai diri sebagai agen perubahan padahal untuk merubah kebiasaan jelek sendiri saja belum tentu mampu.

Namun, kupikir.. siapa pun kita, sebodoh apa pun kita, kita berhak dan berkewajiban untuk hal ini : “merawat Indonesia”. Ya.. aku tahu. Mungkin kita belum menjadi perawat yang handal, masih jauh untuk itu. Untuk merawat Indonesia yang tengah sakit ini, kita yang sekarang belum tentu mampu. Terlalu berat kawan. Tapi kita bisa, pasti bisa, karena semua hal yang kita lakukan bersama almamater ini, semua diskusi, semua karya, semua aksi, dan semua prestasi kita.. tidak lain dan tidak bukan adalah persembahan berharga untuk tanah air kita tercinta, sebagai usaha kita dalam Belajar. Ya…. Belajar Merawat Indonesia…

“HIDUP MAHASISWA” “HIDUP PEMUDA INDONESIA”
(btw, aku emang udah bukan mahasiswa. Tapi akan insyaAllah. hehe)

Tentang Lumba lumba

Tulisan ini ditulis setelah mendengar cerita temen gue tentang liburannya ke Killuan Dolphin Bay. Buat Sarah, kapan2 lo harus ke sana lagi ngajak gue ya!!!. hehe

Gue gak pernah habis pikir apa yang cewek2 suka dari boneka lumba-lumba. Emang sih, mukanya lucu. Tapi apakah mereka tahu? kalo aslinya lumba-lumba itu warnanya bukan biru apalagi pink. Tapi abu-abu. Gak ada lucu-lucunya. Gak bisa diajak maen, apalagi dipelihara. Kalo soal lucu, buat gue masih lebih lucuan kucing. Yes absolutely.. Kalo pun ada hewan lain yang lebih lucu dari kucing, mungkin Panda kali ya. Gendut gendut gimanaa gitu. Apalagi bayi panda, ngegemesin banget. Jauh lebih lucu ketemu hewan aslinya daripada sekedar boneka yang cuma bisa dijadiin pajangan.

Ya, yang tergila-gila pada boneka lumba-lumba berwarna biru salah dua di antaranya adalah adek gue, si sipa, sama sahabat gue, enung. Kalo kasih kado ke mereka gak susah. Cari aja boneka lumba lumba, nanti mereka juga bahagia. haha.

Itu adalah pemikiran gue dulu. Meski lumba-lumba sering dikisahkan sebagai ikan yang baik di berbagai film, buat gue biasa aja. Soal ikan, mungkin gue lebih suka ikan paus, karena lebih gede dan lebih keren. Apalagi ikan paus yang di film free willy itu. Keren abisss.

Tapi…… percaya atau nggak. Gue pada akhirnya pun jatuh cinta pada pada lumba-lumba. Bukan.. bukan karena melihat kecerdasan mereka saat main di gelanggang samudera. Bukan juga pas ngeliat mereka main di beberapa film kartun. Bukan juga karena lucunya boneka lumba-lumba yang dipasarkan di mana-mana (bagi gue itu lebih terlihat sebagai ulekan dikasih mata dan diwarnain).

Yup, gue bener-bener jatuh cinta ketika lihat sendiri sekawanan lumba-lumba muncul dari bawah permukaan laut lalu mengantar kepergian gue dan temen-temen ke perjalanan pulang menuju Jepara. Mereka melompat dengan sangat indahnya. It was totally Awesome!!!! Menurut gue itu super keren.

Jadi, pandangan gue terhadap lumba-lumba itu berubah. Meskipun gue tetep berpikir bahwa boneka lumba-lumba itu lebih mirip ulekan dikasih mata dan diwarnain, tetapi gue jadi suka. Setiap lihat boneka lumba-lumba, gue selalu inget sama lumba-lumba di laut lepas. Yup.. ternyata, jauh lebih bahagia melihat mereka berenang dan bermain bebas di lautan dibandingkan melihat mereka beratraksi di Gelanggang Samudera.

Semoga bisa lihat lagi….. :)